Jumat, 22 Maret 2013

Perkunjungan Pastoral: Tugas Akhir Rostrina Pakpahan



Tugas Akhir
Nama Mahasiswa      : Rostrina Pakpahan
Program                       : Pascasarjana(S2)
PT                               : STT Bethesda Bekasi                            
Mata Kuliah                : Penggembalaan Lintas Budaya
Dosen                        : Pdt. Dr. Yonas Muanley, M.Th.

Pengantar Dosen

Perkunjungan pastoral merupakan salah satu pokok dari tugas pastoral. Dengan kata lain, variabel perkunjungan pastoral merupakan salah satu tugas yang mesti diperhatikan oleh setiap anggota gereja/Kristen yang melakukan tugas pastoral/penggembalaan.
Rostrina Papkpahan mengemas tugas Akhir mata Kuliah Penggembalaan Lintas Budaya dalam format: Pendahuluan, Pembahasan dan Kesimpulan.
Apa dan bagaimana perkunjungan pastoral akan nampak dalam deskripsi tugas akhir dari Rostrina Pakpahan berikut ini:

 Bab I
 Pendahuluan

Kepedulian pada jiwa-jiwa adalah inti dari seluruh tugas gembala sidang karena dengan peduli pada jiwa, maka seorang gembala sidang sedang memperdulikan kehidupan jemaatnya.  Dengan mengerjakan tugas ini, seorang gembala sidang sedang berurusan langsung dengan bagian terdalam dari kehidupan manusia.  Secara tidak langsung, gembala sidang sedang menyediakan dirinya untuk dipakai Tuhan untuk merubah kehidupan manusia, bukan hanya penampilan tetapi inti kehidupan. 
 Oden menyebutkan tiga bagian dalam kehidupan manusia yang harus dipedulikan. Pertama kebutuhan fisik Meskipun kebutuhan ini temporal namun kebutuhan fisik adalah bagian yang sangat penting.  Kedua, kebutuhan moral. Kebutuhan ini bersifat volitional atau sukarela.  Di dalamnya gembala sidang membantu jemaat untuk melihat nilai-nilai pilihan, pertimbangan-pertimbangan etis dan keputusan-keputusan moral.  Terakhir adalah kebutuhan spiritual.  Kedua kebutuhan yang lain dapat dilihat dan dirasakan, dan keberadaannya secara langsung mempengaruhi kebutuhan spiritual.  Sebaliknya kondisi spiritual seseorang akan mempengaruhi kedua kebutuhan yang lainnya. Dan hal itu dapat terlaksana dengan adanya perkujungan pastoral.

Bab II
 Pengertian perkujunngan dan pastoral
1.      Pengertian Perkunjungan
Perkunjungan adalah kegiatan yang pada hakikatnya merupakan tindakan manusiawi untuk membangun dan mengembangkan relasi antar sesama. Dengan melihat hal positf dari perkunjungan, maka gereja menempatkan perkunjungan ke dalam aktivitas gerejawi untuk menjaga kesinambungan hidup gereja dengan memperhatikan kehidupan jemaat dan menempatkan jemaat dalam posisi yang terpenting dalam kehidupan gereja.
Sesuai gambaran di atas, maka perkunjungan harus dipahami dalam terang dasar seperti berikut.
a.      Perkunjungan adalah bentuk dari Evangelisasi oleh Presensia
Marilah kita pahami terlebih dahulu bahwa perkunjungan itu adalah salah satu bentuk dari
evangelisasi Gereja. Yang dimaksud dengan evangelisasi Gereja adalah sebuah tindakan konkret dari gereja untuk menyatakan dan memberitakan kabar baik tentang kedatangan Kerajaan Allah, baik melalui perkataan dan perbuatan,  kepada manusia (= manusia Kristen dan bukan-Kristen) di seluruh dunia. Dan untuk memberitakan kabar tersebut, maka salah satu media/ sarana yang dipakai adalah dalam wujud perkunjungan kepada warga.
Mengapa perkunjungan  itu dikatakan sebagai bentuk dari evangelisasi? Perlu dipahami di sini bahwa pemberitaan kabar baik pertama (atau seorang evangelis pertama) dilakukan oleh Tuhan Yesus sendiri. IA, yang adalah Tuhan, telah hadir dan menetap (present) di antara manusia dan memberitakan setiap kabar kesukacitaan tentang Kerajaan Allah kepada manusia. Jadi pemberitaan tersebut, pada dasarnya dilakukan dengan cara hadir dan meng-“ada” di antara manusia (istilah ini kemudian dikenal dengan presensia).
b.      Perkunjungan adalah pelayanan yang ditugaskan Tuhan kepada Gereja.
Jika demikian, maka dalam perkunjungan kita jangan melakukan hal-hal yang kita pikirkan dan bukan juga melakukan hal-hal yang dipikirkan oleh keluarga yang kita kunjungi. Yang harus dilakukan dalam kunjungan adalah hal-hal yang ada hubungannya dengan Firman Allah; atau lebih tepat dikatakan: melakukan-hal-hal yang dilihat dalam terang Firman Allah. Maksudnya: dalam kunjungan ini kita dapat berbicara dengan bebas tentang segala sesuatu yang dilihat dalam perspektif Firman Allah. Namun hal ini bukan berarti bahwa perkunjungan itu merupakan kotbah berjalan, melainkan apa pun yang dibicarakan dalam perkunjungan itu, semua harus berlangsung dalam terang Firman Allah, karena kita melakukan percakapan bersama di hadapan Allah.
c.       Perkunjungan tidak sama dengan Percakapan Pastoral
Banyak orang salah mengira bahwa perkunjungan itu adalah sama dengan percakapan pastoral, sehingga jika mau berkunjung orang harus siap membawa Alkitab dan Nyanyian Rohani. Dan dalam perkunjungan tersebut, keluarga yang dikunjungi diminta untuk menyampaikan apa yang menjadi pergumulan hidupnya. Perkunjungan tidak seperti itu! Perkunjungan adalah upaya gereja dalam menyapa kehidupan dalam keluarga. Melalui perkunjungan gereja dapat menemani kehidupan keluarga yang dikunjungi sekaligus membangun relasi yang baik. Kalau dalam perkunjungan itu ada permasalahan yang harus disampaikan oleh keluarga (yang merupakan masalah pastoral), maka kita yang mengunjungi harus membuat janji untuk bertemu dalam pertemuan khusus, yang merupakan pertemuan lanjutan dan nantinya akan berkembang menjadi percakapan atau kasus pastoral. Oleh sebab itu, perkunjungan haruslah singkat dan secukupnya saja.
2.      Pengertian Pastoral
Secara etimologi pastoral berasal dari kata pastor (latin) yang berarti gembala. Ini berarti bahwa pastoral berarti sebuah kata sifat, sifat “gembalani”. Lalu perihal segala sesuatu yang menjadi pekerjaan/tindak tanduk seorang gembala dalam melayani umat menjadi ruang lingkup pastoral. Oleh karenanya ada yang mengatakan bahwa pastoral merupakan pelayanan berwajah banyak. Sebab, segala sesuatu yang terkait dengan tugas gembala gereja terhadap umat menjadi ruang lingkup pastoral (kotbah, katekisasi, pembinaan, perkunjungan, perutusan, dst).
Karena   luasnya ruang lingkup pastoral, sebagian kalangan mulai berpikir sebaliknya. Bahwa, pastoral tidak selalu berwajah banyak. Pastoral dapat dibatasi sebagai tindakan khusus yang dilakukan gereja dalam rangka penggembalaan umat. Sebagai contoh yang dimaksud pastoral adalah tindakan gerejawi seperti: Pendampingan pastoral, percakapan gerejawi dan perkunjungan pastoral. Kedua pemahaman di atas tidaklah perlu kita lihat sebagai pertentangan – bahwa yang satu lebih benar dari yang lain. Sebab, keduanya memiliki kebenarannya masing-masing. Dan bukan juga berarti bahwa dapat begitu saja memadukan kebenaran dari keduannya sebab memang ada perbedaan di antara keduanya. Yang dapat kita lakukan adalah mencari suatu cara pandang baru yang melampaui dualisme pandangan-pandangan di atas.
Fungsi pastoral sekiranya dapat kita kategorikan dalam bebera fungsi pastoral. Pertama, membimbing. Kedua, menguatkan. Ketiga, menyembuhkan. Keempat, mendamaikan. Prinsip pastoral adalah pengampunan-penerimaan-pendamaian bukan penghakiman-penolakan-pengucilan
Pastoral sebagai sebuah “prespektif penggembalaan”.
Menempatkan pastoral sebagai sebuah “perspektif” maka mengandaikan sebuah titik pandang tertentu mengenai sikap, karakter, perasaan, pikiran atau tindakan tertentu dari pelayan pastoral. Dalam hal ini perspektif yang dimaksud adalah “perspektif gembala”. Titik pandang ini tentunya tidak bersifat tempelan saja sebab menjadi sikap mendasar yang selalu muncul dalam diri seorang pelayan pastoral. Dengan menempatkan pastoral sebagai “perspektif” berarti menunjukan keterarahan tertentu dari sikap, karakter, perasaan, dst pada suatu objek atau orang lain. Ini berarti bahwa pastoral dalam “perspektif penggembalan” menjadi bersifat relasional.
Pusat dari isi penggembalaan adalah sebuah sikap batin seorang gembala yang memiliki kerinduan yang kuat akan kesejahteraan dombanya. Situasi kerinduan yang kuat itu dapat kita tandai dalam konsep-konsep penyembuhan, pemeliharaan, dan pembimbingan. Penyembuhan dapat kita jumpai layaknya seorang samaria yang baik hati. Pemeliharaan berarti menguatkan atau berbelarasa dengan penuh keberanian terhadap orang yang menderita. Pembimbingan berarti membantu orang untuk menemukan jalan keluarnya sendiri.
Ketika kita dapat melihat pastoral sebagai ”perspektif penggembalaan” maka kita dapat menemukan bahwa ada titik singgung yang mungkin terjadi dengan pendekatan Apreciative Inquairy (AI). Logika berpikir dalam pendekatan AI akan memperkaya “perspektif penggembalaan” oleh karena penekanannya yang kuat akan potensi dan kualitas serta pemaknaan peristiwa. Bahkan dapat dikatakan bahwa Pastoral dalam “perspektif penggembalaan” sudah memiliki sifat dasar yang apresiatif. Jadi dimanapun tempat, semestinya pastoral adalah apresiatif.
Dalam hal ini perlu juga diketahui bahwa ada perspektif lain yang berkembang selain “perspektif penggembalaan” untuk melihat tindakan operasional gereja. Yaitu, perspektif “pengkomunikasian Injil” yang berkenaan dengan tujuan fungsional dalam meresapkan Firman ke dalam akal, hati, dan kehidupan manusia. Penyampaian firman ini soal penyampaian kebenaran yang menyelamatkan manusia.
Perspektif yang terakhir, yaitu, perspektif “pengorganisasian persekutuan”. Ini berarti mengenai karya untuk menyatukan persekutuan dan mengatur hubungan dalam persekutuan maupun antara persekutuan dengan yang bukan persekutuan.
Setelah kita melihat pengertian kedua kata diatas, saat ini kita akan melihat apa itu    perkunjungan pastoral  dalam jemaat lokal berdasarkan lintas budaya.

Bab III
Perkunjungan Pastoral
Perkunjungan pastoral bukanlah mengadakan ibadah seperti biasa, tetapi member perhatian khusus kepada anggota jemaat, supaya mereka merasa dan mengatahui bahwa dirinya disapa secaara pribadi oleh Firman Tuhan dan supaya mereka mengetahui apa panggilan mereka untuk seluruh hidupnya
Pelayanan kependetaan sangat unik, karena ia dapat melayani jemaat setiap waktu dan membuka peluang untuk pelayanan sosial, dialog yang hangat dan kesaksian Kristen.
Tidak seperti konselor psikologi, psikoterapis atau dokter dan pengacara yang menunggu klien mereka datang ke klinik atau kantor, maka untuk pendeta selalu ada pintu yang terbuka disetiap rumah anggota jemaat. Mereka merasa terhormat dengan kunjungan pendeta.
Mengapa ada perbedaan antara pelayanan pendeta dengan profesi lain yang memilki kode etik yang ketat ? Jawabannya adalah karena secara moral dan tradisi, pelayanan ini tidak mengambil bayaran. Bahkan jemaat suka mengundang pendeta kerumah mereka untuk dapat mendampingi mereka dalam peperangan rohani.
Dan disamping itu juga sudah menjadi tugas seorang gembala sidang untuk memberi makan domba-domba yang digembalkannya dan memperhatikan mereka secara terus menerus.  Perkunjungan pastoral adalah salah satu usaha untuk mengerjakan tugas ini.  Perkunjungan pastoral harus dikerjakan secara terus menerus.  Gembala yang baik sebaiknya mengetahui dan memonitor perkembangan kehidupan domba-dombanya.  Untuk dapat melakukannya dengan lebih mudah, gembala sidang dapat mengunjungi jemaatnya dengan berbagai tujuan, seperti perkunjungan yang bersifat mengajar, perkunjungan yang hanya untuk membangun hubungan baik, perkunjungan kepada yang sakit dan lain sebagainya.  Lebih dari semuanya itu, perkunjungan pastoral harus dilandasi dengan kasih dan bukan semata-mata karena itu adalah tuntutan profesi.
Yesus sendiri telah memberikan contoh bagi perkunjungan pastoral. dimana  Yesus mengadakan banyak sekali percakapan pribadi yang melaluinya seseorang digembalakan contohnya Yesus dengan Nikodemus, Yesus dengan perempuan Samaria, Yesus dengan perempuan yang anaknya meninggal dan lain sebagainya.  Pada saat melakukan perkunjungan, Dia mendatangi mereka di tempat mereka bekerja.  Yesus pergi ke pantai, sumur, pasar, rumah pemungut cukai dan tempat-tempat ibdah.
            Dengan meneladani tindakan Yesus, sebenarnya seorang gembala sidang sedang memperoleh sebuah kesempatan untuk bertemu langsung dan memperoleh informasi tentang kebutuhan spiritual jemaatnya. Selain itu dengan perkunjungan pastoral, seorang gembala dapat berdoa bagi setiap jemaatnya, memberikan dorongan dan mengajarkan ajaran-ajaran mulia dari Sang Gembala Agung.
        Dengan apa yang dikatakan diatas menjadi nyata,bahwa perkunjungan pastoral merupakan alat utama dalam pelaksanaan penggembalaan dalam jemaat. Dan dalam perkujungan pastoral haruslah kita memperhatikan beberapa hal:
·         Mencari anggota jemaat dimana ia berada
Seorang gembala ketika ingin melakukan perkunjungan, sebelumnya harus memiliki strategi dalam perkunjungan, dalam arti mempersiapkan diri dalam perkunjungan dimana pun anggota jemaat berada, dan menyesuaikan diri dengan kondisi jemaat yang akan dikunjungi.
·         Siapakah subjek dan objek dalam perkunjungan
Sebenarnya tiap-tiap perkunjungan seorang kristen kepada teman, dengan maksud menolongnya atas nama Yesus Kristus sudah merupakan suatu perkunjungan pastoral. Tetapi dalam hal ini penulis lebih menekankan kepada perkujungan pastoral dalam jemaat lokal. Jadi yang menjadi subjek dalam perkujungan partoral ialah para majelis, hamba-hamba Tuhan, dan secara khusus tugas seorang gembala, dan yang menjadi objeknya keseluruhan jemaat yang ada tanpa terkecuali.
·     Dilakukan berdasarkan konteks/situasi
Dalam perkunjungan pastoral seorang gembala harus bisa menempatkan diri dalam setiap perkujungannnya, atau dalam arti lain harus bisa menyesuaikan diri dengan keadaan jemaat yang dikunjunginya. Mulai dari tingkatan sosia, budaya/kebiasaan, dan juga situasi jemaat itu sendiri ketika perkunjungan di lakukan.

Bab IV
 Tujuan perkunjungan partoral
a.     Hanya melalui perkunjungan maka pendeta dapat mengetahui secara langsung keadaan jemaat yang sebenarnya. Percakapan pastoral akan membuka pintu yang tertutup, memberi pencerahan dan menembus benteng pertahanan diri.
Banyak jemaat sangat berhati-hati dan tidak terbuka dengan masalah mereka pada orang lain tetapi perkunjungan akan memecahkan kebisuan masalah dan membuat mereka dapat terbuka akan masalah mereka. Kesepian akan bertemu dengan harapan dan depresi rohani akan mengalami kebebasan.
b.    Kegunaan perkunjungan adalah untuk mengetahui secara tepat, siapa saja yang membutuhkan bimbingan rohani. Tidak ada seorang psikiatri dapat dengan bebas melakukan hal ini. Oleh karena itu pendeta yang baik akan lebih berpotensi dari pada profesional sekuler.
c.     Orang tua yang lemah sangat tergantung akan kualitas dan konsistensi perkunjungan pastoral. Tanpa kunjungan mereka hanya dapat mengakses pelayanan melalui media elektronik dengan godaan menjadi sentimentil dan fanatik.
d.     Pengaruh yang besar dari pelayanan pastoral tidak dapat diharapkan jika perkunjungan diabaikan. Dengan kunjungan yang rutin pendeta bisa mendapat kesempatan untuk mengetahui keluarga yang bertumbuh, pendatang baru, perubahan kematangan kaum muda.Sebuah periode kunjungan akan mengungkapkan bahwa mereka sebenarnya adalah orang yang kesepian yang sedang menunggu pendeta untuk membuka percakapan tentang berbagai hal
e.    Satu kegunaan perkunjungan adalah mengajar para pelayan untuk lebih baik lagi dalam mendoakan orang. Ia dapat membuat daftar jemaat dan mengunjungi secara periodik. Ia membuat waktu khusus untuk berpuasa dan mendoakan nama-nama dalam daftar itu.Perkunjungan akan membangun karakter kita sendiri, karena kita menyentuh langsung pada tempramen orang lain, konflik yang besar dan ketakutan karena tekanan. Hal ini akan meningkatkan kemampuan kita.
f.      Salah satu keuntungan bagi pendeta yang melakukan perkunjungan adalah ia dapat menyusun kotbahnya berdasarkan masalah yang ditemui dalam perkunjungan. Kotbah yang disampaikan dapat menjawab kebutuhan dan masalah yang ada.
g.    Ketika jemaat melihat energi, empati dan ketulusan hati dari pendeta di rumah mereka sendiri , maka mereka akan lebih serius melaksanakan seruan mimbar untuk keadilan sosial dan berkomitmen untuk penginjilan.
Meskipun pada prinsipnya tugas pendeta adalah mengunjungi dari rumah kerumah (Kis 5:42) sudah diakui dan diterima secara luas, tetapi pada pelaksanaannya juga mengalami kesulitan, yaitu:
1.    Permintaan pelayanan yang tidak masuk akal.
2.    Pengaturan waktu antara waktu untuk organisasi dan waktu perkunjungan yang seharusnya fleksibel pada keadaan darurat
3.    Permintaan kunjungan segera dari jemaat yang tinggal jauh akhirnya menyisakan sedikit waktu saja
4.    Banyak anggota yang bekerja sehingga tidak ada di rumah dan ketika mereka punya waktu di sore atau malam hari, pendeta sudah punya jadwal acara pertemuan sore lainnya.
Idealnya kunjungan pastoral dilakukan secara rutin, sedikitnya satu orang atau satu keluarga dikunjungi sekali dalam setahun. Hanya dengan cara ini pendeta dapat mengetahui dari tangan pertama tentang aspirasi, pergumulan dan tantangan jemaat. Perkunjungan, secara nyata akan mengetahui adanya kasih dan penolakan, kegembiraan dan kesedihan, harapan dan ketakutan. Melalui perkunjungan pendeta dapat masuk kedalam kehidupan pribadi yang paling dalam dan member pendampingan danp ertolongan akan kebutuhan mereka DASAR THEOLOGIS Allah mengunjungi dan menebusu mat-Nya (Luk1:68).
      Seperti Tuhan sebagai Gembala yang baik mau meninggalkan sembilan puluh sembilan dan mencari satu domba yang hilang, maka kita harus mau meninggalkan kenyamanan jemaat dan mencari satu jiwa yang terhilang (Mat18:12). Perkunjungan pastoal adalah cara utk menunjukkan kemuliaan Allah yang telah mengunjungi manusia sebagai manusia dalam Kristus.
Akar kata Ibrani untuk visit atau kunjungan adalah pagad, dalam Yunani adalah episkopeo dan dalam Latin adalah visitare ,mempunyai dua pengertian:
-      Memeriksa atau membuktikan dengan menguji
-      Melihat bahwa semuanya berjalan sesuai perintah
Kunjungan pastoral mencakup kedua hal ini yaitu untuk melihat apakah iman orang yang dikunjungi bertumbuh dan memeriksa apakah saat ini iman itu berkembang.
Visitasi adalah tugas pengembalaan yang tidak hanya sekali bertemu dengan anggota jemaat di gereja, tetapi diteruskan dengan memberi mereka makan di rumah. Disinilah akan terjadi hubungan yang dalam. Oleh karena itu pengembalaan tidak dapat dilakukan dengan mesin penjawab telepon, pesan lewat komputer (e-mail) atau surat yang tidak pribadi dan Ini bukan pembicaraan umum tetapi antar pribadi.
 CONTOH PERKUNJUNGAN Puncak dari kunjungan Allah adalah dalam pelayanan Jesus dari Nazaret. Kunjungannya adalah untuk menebus umat-Nya (Lukas 1:68) dan Ia menerapkan beberapa model perkunjungan: Yesus berinteraksi langsung muka dengan Nikodemus (Yohanes 3:1-9), Perempuan Samaria (Yohanes 4:1-42), Kepala pasukan (Matius 8:5-10), Janda yang anaknya meninggal (Lukas 7:11), Perempuan dari Kanaan (Matius17:14-21)Yesus mengunjungi kota-kota dan desa-desa di Yudea, Samaria dan Galilea. Ia sering masuk kerumah orang yang mau mendengar-Nya, baik rumah orang kaya maupun orang miskin untuk mengajar (Markus 1:39; 17:11; 23:5; Yohanes 12:3).
 Kunjungan Yesus disertai pelayanan kesembuhan Orang lepra (Matius 8:2-4). Bartimeus (Markus 10:46-52) Orang buta sejak lahir (Yohanes 9:1). Yesus memberitakan akan adanya pemerintahan Allah kepada semua lapisan masyarakat Orang Saduki (Matius 22:23-33) Orang Parisi (Matius 12:2-6).Orang Herodian (Matius22:15-22) Masa kini perkunjungan pastoral tidak terbatas hanya kepada anggota jemaat saja, tetapi harus menjangkau semua suku dari semua kelas sosial.Yesus menyediakan waktu khusus untuk retreat dan berbicara dalam keadaan tidak terburu-buru dengan murid-murid-Nya (Matius 5:1, 17:1-13, Lukas 9:28);
Yesus mengunjungi orang dirumah mereka sendiri Rumah Lewi pemungut cukai (Lukas 5:29); Rumah Maria dan Marta (Lukas 10:38-42); Rumah Simon si lepra (Matius 26:6); Ketika Yesus melakukan perkunjungan maka Ia menghadirkan hadirat Allah, melihat hati yang paling dalam, mendengarkan mereka dengan empati dan meminta mereka untuk bertobat dan beriman.Model kunjungan Rasul-rasul Setelah rasul-rasul dibebaskan dari Makamah Agama mereka mengajar di Bait Allah dan di rumah-rumah (Kisah 5:42). Paulus melakukan perkunjungan dan juga mengajar dirumah-rumah (Kisah20:20). Rasul-rasul mempraktekkan apa yang Yesus ajarkan jika melakukan perkunjungan ke rumah-rumah (Matius 10:12-14). Pendeta harus belajar merubah cara berbicara jika menghadapi jemaat agar tidak frustasi Galatia4:20).

Bab V
 Kesimpulan

Kunjungan pastoral sangat penting dilakukan oleh para pendeta kerena sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan iman jemaat.Melalui perkunjungan pastoral kita dapat melihat kenyataan dan pergumulan hidup yang dijalani oleh jemaat, sehingga dalam menyusun kotbah dapat menyampaikan kotbah yang menjawab kebutuhan. Dalam setiap situasi dalam perkunjungan, tugas sentral kita tetap sama yaitu menjelmakan Kristus ke dunia dan menjadi mediator kasih Allah kepada setiap manusia.  Kehidupan berjemaat masa kini lebih kompleks dari pada kehidupan berjemaat di zaman Rasul Paulus. Perkunjungan pastoral sangat penting bagi pemeliharaan iman warga jemaat, untuk mempertahankan kesaksiannya ditengah masyarakat dunia ini.
Pada masa kini, kehidupan orang setiap hari di pengaruhi kepentingan lahiriah, nafsu kedagingan, materi dan kekuatan super natural. Semua itu merupakan tantangan iman bagi warga gereja. Para pelayan Tuhan harus peka terhadap tantangan iman warganya itu dan minimnya penguatan melalui pembinaan kepada mereka. Keterbatasan itu harus diantisipasi, untuk memperkecil risiko yang mungkin terjadi. Karena itu sebagai bagian dari pelayanan gereja, perlu dan penting untuk melakukan perkunjungan pastoral kepada jemaat, sebagai upaya memelihara iman jemaat. Supaya mereka dapat kecerahan hati dan pikirannya. Sehingga mereka dapat mempertahankan imannya dan tetap setia kepada Tuhan.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar