Kamis, 28 Maret 2013

Pengertian Penggembalaan


 
Salah satu ontologi adalah penggembalaan. Penggembalaan memang merupakan sebuah kegiatan dari manusia. Manusia yang melakukan kegiatan penggembalaan itulah yang menjadi objek pembahasan penggembalaan.  Maka realitas penggembalaan dalam pembahasan ini bergantung pada realitas para penulis Alkitab, mulai dari penulis Kejadian sampai Wahyu. Karena realitas yang mereka sampaikan adalah realitas dalam dunia mereka. Artinya mereka yang menyaksikannya orang-orang tertentu melakukan tugas gembala. Misalnya Penulis I Samuel menyatakan bahwa Daud adalah gembala (I Samuel, 16:11), Penulis kitab Mazmur menyaksikan dalam bahasa kiasan bahwa TUHAN adalah gembala (Maz. 23), dalam Perjanjian Baru: Yesus menyebut diri-Nya gembala yang baik (Yoh. 10:11), Yesus meminta Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh. 21:15,16 dan 18).  
Epistemologi Penggembalaan Lintas Budaya
Pengertian Penggembalaan
Berdasarkan ontologi tentang gembala sebagaimana yang disinggung dalam ontologi penggembalaan atau realitas penggembalaan, maka perlu kita membangun sebuah epistemologi tentang penggembalaan. Salah satu langkah epistemologi itu adalah pengertian tentang penggembalaan.  Untuk membangun epistemologi khususnya pengertian tentang penggembalaan maka kita perlu memperhatikan definisi para ahli teologi  tentang penggembalaan.  Dari  sekian banyak definisi itu kita pilih dua definisi. Dua definisi ini menolong kita untuk mempercakapkan secara akademis mata kuliah Penggembalaan Lintas Budaya.
Dua definisi yang dimaksud:
1.    Definisi Thurneysen, penggembalaan adalah suatu penerapan khusus Injil (berita sukacita Yesus Kristus) kepada anggota jemaat [anggota jemaat lokal/universal=perjumpaan dengan orang Kristen di berbagai tempat baik yang seasas, misalnya Calvinisme, Luheranisme, Arminianisme, pentakostalisme, kharismatik] secara pribadi,  yaitu berita Injil yang dalam khotbah gereja disampaikan kepada semua orang (Strom, 2004 : 1).
Yang ditandai merupakan tambahan saya untuk memudahkan pemahaman akan anggota jemaat dalam konteks penggembalaan yang tidak hanya merupakan tugas gembala tetapi semua orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.
2.    J.W.Herfst, penggembalaan adalah upaya terstruktur menolong setiap orang untuk menyadari hubungannya dengan Allah, dan mengajar  orang untuk mengakui ketaatannya kepada Allah dan sesamanya, dalam situasinya sendiri (Strom, 2004 : 1)


Penggembalaan dalam Jemaat

Yesus mengibaratkan atau menyamakan pelayanan kepada saudara-saudara kita dalam diri-Nya itu, dengan penggebalaan. Jadi, saudara-saudara itu hendaknya dijaga,dipelihara, dibimbing, dan diselamatkan dari bahaya.
Kata gembala dalam bahasa Latin Pastor, bahasa Yunani “Poimen”. Oleh sebab itu penggembalaan dapat juga disebut “poimenika” atau “pastoralia”. Dengan demikian, pelayanan pastoral adalah sebutan untuk penggembalaan.

Kesimpulan

Penggembalaan adalah:
(1)  Mencari dan mengunjungi anggota jemaat satu persatu
(2)  Mengabarkan firman Allah kepada jemaat di tengah situasi hidup mereka pribadi
(3)  Melayani jemaat, sama seperti Yesus melayani mereka
(4)  Supaya mereka lebih menyadari iman mereka, dan dapat mewujudkan iman itu dalam hidupnya sehari-hari.   

Pengertian Penggembalaan


 
Salah satu ontologi adalah penggembalaan. Penggembalaan memang merupakan sebuah kegiatan dari manusia. Manusia yang melakukan kegiatan penggembalaan itulah yang menjadi objek pembahasan penggembalaan.  Maka realitas penggembalaan dalam pembahasan ini bergantung pada realitas para penulis Alkitab, mulai dari penulis Kejadian sampai Wahyu. Karena realitas yang mereka sampaikan adalah realitas dalam dunia mereka. Artinya mereka yang menyaksikannya orang-orang tertentu melakukan tugas gembala. Misalnya Penulis I Samuel menyatakan bahwa Daud adalah gembala (I Samuel, 16:11), Penulis kitab Mazmur menyaksikan dalam bahasa kiasan bahwa TUHAN adalah gembala (Maz. 23), dalam Perjanjian Baru: Yesus menyebut diri-Nya gembala yang baik (Yoh. 10:11), Yesus meminta Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh. 21:15,16 dan 18).  
Epistemologi Penggembalaan Lintas Budaya
Pengertian Penggembalaan
Berdasarkan ontologi tentang gembala sebagaimana yang disinggung dalam ontologi penggembalaan atau realitas penggembalaan, maka perlu kita membangun sebuah epistemologi tentang penggembalaan. Salah satu langkah epistemologi itu adalah pengertian tentang penggembalaan.  Untuk membangun epistemologi khususnya pengertian tentang penggembalaan maka kita perlu memperhatikan definisi para ahli teologi  tentang penggembalaan.  Dari  sekian banyak definisi itu kita pilih dua definisi. Dua definisi ini menolong kita untuk mempercakapkan secara akademis mata kuliah Penggembalaan Lintas Budaya.
Dua definisi yang dimaksud:
1.    Definisi Thurneysen, penggembalaan adalah suatu penerapan khusus Injil (berita sukacita Yesus Kristus) kepada anggota jemaat [anggota jemaat lokal/universal=perjumpaan dengan orang Kristen di berbagai tempat baik yang seasas, misalnya Calvinisme, Luheranisme, Arminianisme, pentakostalisme, kharismatik] secara pribadi,  yaitu berita Injil yang dalam khotbah gereja disampaikan kepada semua orang (Strom, 2004 : 1).
Yang ditandai merupakan tambahan saya untuk memudahkan pemahaman akan anggota jemaat dalam konteks penggembalaan yang tidak hanya merupakan tugas gembala tetapi semua orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.
2.    J.W.Herfst, penggembalaan adalah upaya terstruktur menolong setiap orang untuk menyadari hubungannya dengan Allah, dan mengajar  orang untuk mengakui ketaatannya kepada Allah dan sesamanya, dalam situasinya sendiri (Strom, 2004 : 1)

Pengertian Penggembalaan


 
Salah satu ontologi adalah penggembalaan. Penggembalaan memang merupakan sebuah kegiatan dari manusia. Manusia yang melakukan kegiatan penggembalaan itulah yang menjadi objek pembahasan penggembalaan.  Maka realitas penggembalaan dalam pembahasan ini bergantung pada realitas para penulis Alkitab, mulai dari penulis Kejadian sampai Wahyu. Karena realitas yang mereka sampaikan adalah realitas dalam dunia mereka. Artinya mereka yang menyaksikannya orang-orang tertentu melakukan tugas gembala. Misalnya Penulis I Samuel menyatakan bahwa Daud adalah gembala (I Samuel, 16:11), Penulis kitab Mazmur menyaksikan dalam bahasa kiasan bahwa TUHAN adalah gembala (Maz. 23), dalam Perjanjian Baru: Yesus menyebut diri-Nya gembala yang baik (Yoh. 10:11), Yesus meminta Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh. 21:15,16 dan 18).  
Epistemologi Penggembalaan Lintas Budaya
Pengertian Penggembalaan
Berdasarkan ontologi tentang gembala sebagaimana yang disinggung dalam ontologi penggembalaan atau realitas penggembalaan, maka perlu kita membangun sebuah epistemologi tentang penggembalaan. Salah satu langkah epistemologi itu adalah pengertian tentang penggembalaan.  Untuk membangun epistemologi khususnya pengertian tentang penggembalaan maka kita perlu memperhatikan definisi para ahli teologi  tentang penggembalaan.  Dari  sekian banyak definisi itu kita pilih dua definisi. Dua definisi ini menolong kita untuk mempercakapkan secara akademis mata kuliah Penggembalaan Lintas Budaya.
Dua definisi yang dimaksud:
1.    Definisi Thurneysen, penggembalaan adalah suatu penerapan khusus Injil (berita sukacita Yesus Kristus) kepada anggota jemaat [anggota jemaat lokal/universal=perjumpaan dengan orang Kristen di berbagai tempat baik yang seasas, misalnya Calvinisme, Luheranisme, Arminianisme, pentakostalisme, kharismatik] secara pribadi,  yaitu berita Injil yang dalam khotbah gereja disampaikan kepada semua orang (Strom, 2004 : 1).
Yang ditandai merupakan tambahan saya untuk memudahkan pemahaman akan anggota jemaat dalam konteks penggembalaan yang tidak hanya merupakan tugas gembala tetapi semua orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.
2.    J.W.Herfst, penggembalaan adalah upaya terstruktur menolong setiap orang untuk menyadari hubungannya dengan Allah, dan mengajar  orang untuk mengakui ketaatannya kepada Allah dan sesamanya, dalam situasinya sendiri (Strom, 2004 : 1)

Pengertian Penggembalaan


 
Salah satu ontologi adalah penggembalaan. Penggembalaan memang merupakan sebuah kegiatan dari manusia. Manusia yang melakukan kegiatan penggembalaan itulah yang menjadi objek pembahasan penggembalaan.  Maka realitas penggembalaan dalam pembahasan ini bergantung pada realitas para penulis Alkitab, mulai dari penulis Kejadian sampai Wahyu. Karena realitas yang mereka sampaikan adalah realitas dalam dunia mereka. Artinya mereka yang menyaksikannya orang-orang tertentu melakukan tugas gembala. Misalnya Penulis I Samuel menyatakan bahwa Daud adalah gembala (I Samuel, 16:11), Penulis kitab Mazmur menyaksikan dalam bahasa kiasan bahwa TUHAN adalah gembala (Maz. 23), dalam Perjanjian Baru: Yesus menyebut diri-Nya gembala yang baik (Yoh. 10:11), Yesus meminta Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh. 21:15,16 dan 18).  
Epistemologi Penggembalaan Lintas Budaya
Pengertian Penggembalaan
Berdasarkan ontologi tentang gembala sebagaimana yang disinggung dalam ontologi penggembalaan atau realitas penggembalaan, maka perlu kita membangun sebuah epistemologi tentang penggembalaan. Salah satu langkah epistemologi itu adalah pengertian tentang penggembalaan.  Untuk membangun epistemologi khususnya pengertian tentang penggembalaan maka kita perlu memperhatikan definisi para ahli teologi  tentang penggembalaan.  Dari  sekian banyak definisi itu kita pilih dua definisi. Dua definisi ini menolong kita untuk mempercakapkan secara akademis mata kuliah Penggembalaan Lintas Budaya.
Dua definisi yang dimaksud:
1.    Definisi Thurneysen, penggembalaan adalah suatu penerapan khusus Injil (berita sukacita Yesus Kristus) kepada anggota jemaat [anggota jemaat lokal/universal=perjumpaan dengan orang Kristen di berbagai tempat baik yang seasas, misalnya Calvinisme, Luheranisme, Arminianisme, pentakostalisme, kharismatik] secara pribadi,  yaitu berita Injil yang dalam khotbah gereja disampaikan kepada semua orang (Strom, 2004 : 1).
Yang ditandai merupakan tambahan saya untuk memudahkan pemahaman akan anggota jemaat dalam konteks penggembalaan yang tidak hanya merupakan tugas gembala tetapi semua orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.
2.    J.W.Herfst, penggembalaan adalah upaya terstruktur menolong setiap orang untuk menyadari hubungannya dengan Allah, dan mengajar  orang untuk mengakui ketaatannya kepada Allah dan sesamanya, dalam situasinya sendiri (Strom, 2004 : 1)