Minggu, 31 Juli 2016

Tafsiran Kisah Para Rasul 2:42

Bertekun dalam pengajaran dan persekutuan
Tafsiran terhadap Kis. 2:42. Hasil Kolaborasi bersama rekan biblika DYN

“Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” – Kis. 4:42

Jika kita mencermati Kisah 2:41-47 (menurut pembagian mayoritas versi terjemahan Alkitab), kita akan menemukan dua topik penting yang didiskusikan di seputar bagian ini, yaitu:

a. Apakah tema “kesatuan” (unity) atau “kebersamaan” (togetherness) yang terdapat dalam kitab ini, secara khusus terindikasi dalam Kisah 2:42 merupakan sesuatu yang bersifat kenyataan yang memang benar-benar ada dalam gereja mula-mula, khususnya gereja di Yerusalem tidak lama sesudah peristiwa Pentakosta, ataukah gambaran kesatuan atau kebersamaan itu hanyalah sebuah idealisasi semata? Beberapa ahli memandang gambaran kesatuan atau kebersamaan itu sama sekali tidak realistik lalu mengusulkan bahwa itu hanyalah semacam idealisasi namun pada kenyataannya tidak demikian. Beberapa ahli lain memberikan sejumlah pembelaan bahwa gambaran tersebut benar-benar realistis dan tidak dapat dianggap sebagai idealisasi semata.(Alan J. Thompson, 2008:523-542)
b. Masih berhubungan dengan topik kesatuan di atas, lebih khusus Kisah 2:44-45 (juga 4:32-35) mengenai ei=con a[panta koina. (“segala kepunyaan mereka sebagai kepunyaan bersama”), juga didiskusikan: Apakah catatan-catatan ini mengindikasikan bahwa terdapat semacam bentuk komunisme primitif dalam gereja mula-mula?(Steve Walton)
Selain kedua topik besar di atas, secara literer, tampaknya para pakar juga berbeda pendapat dalam hal pembagian batas naratifnya. Semua penafsir menerima bahwa Kisah 2 dapat dibagi menjadi tiga bagian besar, yaitu narasi mengenai peristiwa Pentakosta; khotbah Petrus; dan cara hidup jemaat mula-mula di Yerusalem. Namun, mereka berbeda pendapat dalam hal apakah ayat 41 dimasukkan ke dalam bagian mengenai khotbah Petrus (2:14-41) atau dimasukkan ke dalam bagian mengenai cara hidup jemaat mula-mula (2:41-47).
Dalam ulasan ini, penulis akan memusatkan perhatian untuk membahas secara eksegesis Kisah 2:42. Pembahasan eksegesis dengan fokus pada ayat ini tentu akan dilakukan dalam pertimbangan yang menyangkut konteks naratifnya. Meski demikian, penulis akan memberikan argument literer yang menjustifikasi fokus pembahasan ini yang di dalamnya melibatkan pembahasan akan isu mengenai batasan naratif yang sudah di singgung dalam paragraf sebelumnya. Selanjutnya, penulis akan mengelaborasi unsur-unsur penting dari Kisah 2:42 yang diakhiri dengan penempatannya dalam konteks diskusi yang lebih luas, yaitu diskusi teologis mengenai unsur-unsur tersebut. Analisis Literer: Batasan Teks dan Fokus Pengamatan

Seperti yang telah disinggung di atas, isu penting yang akan dibahas di sini adalah apakah Kisah 2:41 cocoknya dimasukkan ke dalam bagian sebelumnya yaitu khotbah Petrus ataukah dimasukkan ke dalam bagian sesudahnya yaitu cara hidup jemaat di Yerusalem tidak lama sesudah peristiwa Pentakosta? Dalam rangka menjawab pertanyaan ini, penulis akan memusatkan perhatian pada argumen-argumen literer dari tiga pakar yang menulis tafsiran dari aspek literer terhadap kitab ini, yaitu Robert C. Tannehill, Charles H. Talbert – Craig S. Keener, dan Ian Howard Marshall – Ben Witherington.

1. Tannehill (2:14-41, 42-47)

Untuk memahami isu ini, kita perlu mengenal dua unsur literer dalam kerangka novelistik dari Gerard Gennette, yaitu “adegan” (schene) dan “ringkasan” (summary) sebagai dasar pembagian literernya (Gerard Gennette). Adegan adalah unsur literer yang menggambarkan suatu peristiwa khusus dalam sejumlah detail yang biasanya terdapat dialog antar karakter atau tokoh di dalamnya serta mengandung rujukan waktu mengenai peristiwa spesifik yang dirujuknya serta seringkali bersifat dramatis. Sementara itu, ringkasan adalah unsur literer yang mengkombinasikan hasil dari sejumlah peristiwa sehingga unsur waktu atau kronologinya tidak terlalu mendapat penekanan (Gennette).
Bertolak dari dua karakteristik literer di atas, menurut Tannehill, ayat 41(“Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa”) masih mengandung rujukan waktu spesifik yaitu rujukan kepada peristiwa Pentakosta dan khotbah Petrus yang dramatis itu, maka ayat ini lebih cocok dimasukkan ke dalam adegan kedua dalam Kisah 2, yaitu khotbah Petrus (ay. 14-41) (Robert C. Tannehill, 1990:43). Selanjutnya, ayat 42-47 tampaknya tidak mengandung rujukan waktu, melainkan lebih bersifat gambaran ringkas mengenai karakteristik-karakteristik dari kehidupan jemaat Yerusalem tidak lama sesudah adegan pertama (peristiwa Pentakosta) dan adegan kedua (khotbah Petrus). Itulah sebabnya, kita tidak mendapati penekanan akan aspek rujukan waktu dalam bagian ini.( Tannehill ). Pembagian ini juga diikuti oleh Ajith Fernando yang menulis, “Deskripsi mengenai peristiwa-peristiwa pada hari Pentakosta berakhir dengan sebuah pernyataan spektakular bahwa tiga ribu orang ‘ditambahkan pada jumlah mereka’ (2:41) – hasil dari pemberitaan Injil pertama dari apa yang kita sebut sebagai era Roh Kudus.” (Gerard Gennette, 1980:109-110)

2. Talbert dan Keener (2:14-40, 41-47)

Sama seperti Tannehill, Talbert juga melihat bahwa bagian ketiga dari Kisah 2 merupakan sebuah ringkasan (summary).(Talbert) Namun berbeda dengan Tannehill, Talbert menganggap bahwa ringkasan itu justru sudah dimulai dalam ayat 41. Talbert mendasarkan argumennya mengenai pembagian teks ini berdasarkan pengamatan fitur literernya. Talbert melihat bahwa ayat 41-47 mengandung unsur khiastik yang menyatukan ayat-ayat ini. Jadi, pengulangan tema penginjilan dalam ayat 41 dan ayat 47, kemudian pengulangan tema mengenai kehidupan jemaat secara umum dalam ayat 42 dan ayat 44-47a yang pusatnya adalah tema mengenai tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat dalam ayat 43, menjadi dasar penggabungan ayat 41 ke dalam bagian ringkasan tersebut.(Kingsley Barrett). Beberapa tema spesifik ini dikelompokkan Talbert menjadi dua tema besar sebagai hasil dari peristiwa Pentakosta, yaitu: pertama, jumlah petobat baru (lebih dari tiga ribu orang); dan kedua, terbentuknya sebuah komunitas iman yang baru dengan cara hidup yang baru pula.(Talbert) Keener, dalam sebuah artikel ilmiah mengenai Pentakosta dalam Kisah 2, memberikan pembagian yang sama dengan yang dikemukakan Talbert. Sama seperti Talbert, Keener juga melihat adanya struktur khiastik dari ayat 41-47, walau dalam pokok-pokok yang berbeda dengan Talbert. Struktur khiastik yang dilihat Keener dari bagian ini, yaitu:

Ay. 41 – Penginjilan yang efektif.
Ay. 42 – Ibadah, perjamuan, dan doa bersama.
Ay. 44-45 – Kepemilikan bersama.
Ay. 46 – Ibadah, perjamuan, dan doa bersama.
Ay. 47 – Penginjilan yang efektif.( Craig S. Keener, 2009:70)

Terlihat jelas bahwa Keener tidak menyertakan ayat 43 karena tidak cocok dengan penekanan yang hendak ia perlihatkan yaitu bahwa bagian ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan: “Apakah yang harus dilakukan?,” sebagai respons yang tepat atas panggilan pertobatan yang dikemukakan oleh Petrus, bahkan yang berulang kali terdapat dalam Injil Lukas dan Kisah Para Rasul (bnd. Luk. 3:8; 18:22; Kis. 16:34) (Keener)

3. Marshall dan Witherington (2:14-42, 43-47)

Sama seperti Tannehill dan Talbert, Marshall juga melihat bagian ketiga dari Kisah 2 sebagai sebuah ringkasan (summary). Bahkan Marsahl menulis,

Salah satu karakteristik Lukas adalah memisahkan berbagai insiden dalam bagian pertama Kisah Para Rasul dengan menggunakan paragraf ringkas berupa rangkuman atau ayat-ayat yang mengindikasikan situasi jemaat pada beberapa tahap dalam progresnya.(Ian Howard Marsahll, 2008:83)

Meski demikian, berbeda dengan Tannehill maupun Talberb, Marshall percaya bahwa bagian rangkuman itu baru terdapat pada ayat 43-47. Tampaknya Marshall berpandangan bahwa ayat 41-42 merupakan bagian dari hasil khotbah Petrus, itulah sebabnya ia memasukkan kedua ayat ini ke dalam adegan mengenai khotbah Petrus.(Ibid)
Pembagian di atas juga terdapat dalam buku tafsiran yang ditulis oleh Ben Witherinton III. Witherinton mengusulkan pembagian demikian (2:14-42) karena ia melihat ayat 41-42 sebagai bagian dari retorika Petrus:

a. Bantahan terhadap tuduhan bahwa mereka mabuk oleh anggur (ay. 14-21);
b. Serangan balik Petrus bahwa orang-orang Yahudi telah membunuh Yesus (ay. 22-36) di mana hasil dari argumen pada bagian ini terdapat dalam ayat 37;
c. Petrus menggunakan retorika deliberatif untuk memberitahukan respons yang tepat yang harus diambil para audiensnya (ay. 38-40); dan
Hasil keseluruhan dari retorika Petrus (ay. 41-42) .( Ben Witherinton III , 1998:138) Meski demikian, Witherington sendiri memberikan sub pokok bahasan yang memperlihatkan bahwa ia menganggap bagian rangkuman itu terdapat pada ayat 42-47. Ia menyatakan bahwa ayat 42-47 merupakan bagian rangkuman pertama yang memperlihatkan interior spiritual jemaat mula-mula di Yerusalem.( Witherinton ). Jadi, dari aspek retorikalnya, Witherington melihat adanya alasan memasukkan ayat 41-42 ke dalam adegan mengenai pidato Petrus, namun dari segi kaitan literernya, Witherington menganggap bahwa adegan tersebut berakhir pada ayat 41, sedangkan ayat 42 dan seterusnya merupakan bagian rangkuman yang pertama. Menurut Witherington, kita harus membedakan antara pernyataan ringkasan (summary statement) dan paragraf ringkasan (summary passage). Ayat 41 merupakan pernyataan ringkasan dari adegan pidato Petrus, sedangkan ayat 42-47 tercakup dalam paragraf ringkasan. .( Ben Witherinton III , 1998:138)


C. Eksegesis Kisah 2:42

1. Identitas: h=san

Kata h=san (imperfek indikatfi aktif, orang ketiga jamak dari kata eivmi,) yang dalam ITB dan BIS diterjemahkan dengan “mereka” digunakan dalam ayat ini untuk memperlihatkan mengenai identitas orang-orang yang melakukan aktivitas-aktivitas yang disebutkan dalam ayat ini. Dalam paragraf rangkuman ini, kata ini muncul dalam ayat 42 dan ayat 44. Pertanyaannya, siapakah “mereka” itu?
Pertanyaan di atas kelihatannya mudah dijawab karena kita bisa langsung merujuk kepada ayat 41yang berbunyi: “Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa”. Artinya rujukan dari kata h=san dalam ayat 42 adalah orang-orang yang bertobat atas pemberitaan Petrus (terindikasi dari penggunaan to.n lo,gon auvtou/ - “perkataannya”; ay. 41). Tetapi, siapakah orang-orang yang bertobat melalui pemberitaan Injil yang dilakukan oleh Petrus itu? Orang-orang yang dibicarakan dalam ayat 41 adalah orang-orang yang “terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul lainnya: ‘Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?’” (ay. 37). Orang-orang ini, ketika menyampaikan pidatonya, disebut oleh Petrus dengan sebutan avdelfoi, (“saudara-saudara” – ay. 29). Sebutan avdelfoi, dalam ayat ini adalah sebutan yang digunakan untuk menyebut sesama orang Yahudi.( H. Von Soden,) Selain itu, di dalam pidatonya, Petrus menggunakan PL untuk membuktikan kemesiasan Yesus dan secara tidak langsung mendukung gagasan bahwa audiensnya adalah orang-orang Yahudi yang datang menghadiri perayaan Pentakosta di Yerusalem pada waktu itu.( Ian Howard Marshall )
Menurut David Seccombe, “Kisah Para Rasul mengisahkan kisah tentang sebuah gerakan yang awalnya secara total bersifat Yahudi menuju kepada dunia kafir. Gereja-gereja yang terdapat dalam pasal-pasal awal Kisah Para Rasul 100 persen adalah orang-orang Yahudi.”( David Seccombe). Meski demikian, menurut hemat penulis kita tidak boleh menyimpulkan bahwa rujukan dari kata h=san dalam ayat 42 secara khusus adalah orang-orang Yahudi saja. Dalam Kisah 2:11, disebutkan mengenai VIoudai/oi, kai. prosh,lutoi (“orang-orang Yahudi dan orang-orang proselit”). Orang-orang proselit adalah orang-orang non Yahudi yang bukan hanya menganut agama Yahudi namun juga menerima penanda identitas Yahudi berupa sunat. Hal ini membedakan mereka dari “orang-orang yang takut akan Allah: (sebo,menoi; bnd. Kis. 13:43; 17:4) yang menganut agama Yahudi namun tidak menerima sunat.( Software version of BibleWorks 6]. Memang ayat 42 secara khusus berbicara mengenai jemaat Kristen yang tinggal di Yerusalem, sedangkan rujukan mengenai VIoudai/oi, kai. prosh,lutoi dalam 2:11 merujuk secara umum kepada semua orang yang hadir pada perayaan Pentakosta baik dari Yerusalem maupun dari luar Yerusalem. Namun, kita dapat mengasumsikan bahwa bisa jadi ada di antara kaum proselit yang hadir pada peristiwa Pentakosta itu turut bertobat dan menjadi bagian dari komunitas Kristen perdana di Yerusalem pada waktu itu. Jadi, sangat mungkin bahwa kata h=san dalam ayat 42 merujuk baik kepada orang-orang Yahudi maupun non Yahudi [yang awalnya adalah proselit] di Yerusalem yang bertobat melalui pidato Petrus (termasuk juga para rasul lain; bnd. 2:14, 37).
Dari segi signifikansi historis-teologisnya, “mereka” yang disebutkan dalam Kisah 2:42-47 merupakan jemaat perdana yang menandai awal munculnya komunitas pengikut Kristus. Hari Pentakosta yang dicatat dalam Kisah 2 adalah hari lahirnya komunitas pengikut Kristus yang nantinya disebut sebagai orang-orang Kristen di Antiokhia dalam Kisah 6:11. Itulah sebabnya, professor F.F. Bruce menyatakan, “Hari lahir gereja Yerusalem merupakan hari lahir dari gereja Kristen secara keseluruhan.” Bruce melanjutkan bahwa “mereka” adalah “sebuah kontinuitas organik antara umat Allah pada masa PB dan umat Allah pada masa PL” dan peristiwa Pentakosta merupakan “menandai awal yang baru” dari pembentukkannya.
Selain itu, sebelum mengakhiri bagian ini, perlu diberikan catatan juga bahwa memang penulis telah menggunakan istilah “gereja” atau “jemaat” cukup sering di atas. Namun, secara eksegetis, istilah-istilah ini agak anakronis dalam kontkeks penulisan Lukas. David Seccombe memperlihatkan bahwa komunitas orang percaya yang digambarkan dalam pasal-pasal pertama Kisah Para Rasul, tidak disebut dengan istilah “gereja” (evkklhsia). Bahkan terkesan, Lukas menghindari penggunaan istilah ini. Lukas hanya menggunakan penggambaran umum, misalnya “mereka yang bertekun” atau “mereka yang percaya” atau “saudara-saudara yang berkumpul” (1:14, 15; 2:1, 42, 44, 47; 4:23, 32). Seccomber berkomentar bahwa “Tampaknya ia ingin kita melihat komunitas itu sebagaimana adanya, tanpa pra-asumsi melalui penamaan yang telah menjadi simbol konflik pada era tahun 60an M.” Tidak heran, Seccombe menyatakan, “Komunitas yang kita jumpai dalam pasal-pasal pertama Kisah Para Rasul – para pengikut Yesus di Yerusalem berkumpul di rumah-rumah dan di Bait Suci – adalah sebuah komunitas tanpa nama.” Jadi, dalam rangka kemudahan, kita bisa saja menyebutnya “jemaat” atau “gereja” di Yerusalem, namun itu harus dilakukan dengan mengingat bahwa “Lukas tidak menyebutnya demikian”.

Berlanjut

Peranan Gembala Umum dan Kesetiaan Beribadah

PERANAN GEMBALA UMUM TERHADAP KESETIAAN BERIBADAH

Peranan Gembala Jemaat atau pendeta/pastor sangat dibutuhkan dalam menggembalakan jemaat. Peranan demikian dapat mempengaruhi kesetiaan anggota jemaat dalam beribadah. Ibadah Kristen adalah perjumpaan teragung. Dikatakan demikian karena dalam ibadah Kristen tercermin Pertemuan Tuhan dengan umat dan umat dengan Tuhan. Berikut beberapa peranan dan kesetiaan beribadah.

1. Apa yang Anda lakukan ketika melihat orang Kristen yang tidak setia beribadah yang tinggal di sekitar Anda
a. Mengajak ke Ibadah
b. Menasehati agar beribadah
c. Bukan tanggungjawab saya
d. Tanggungjawab majelis
e. Tanggungjawab pendeta
2. Apakah anda mendoakan orang yang tidak setia beribadah
3. Apakah anda suka mengunjungi orang yang tidak setia beribadah
4. Apakah anda suka mengajar orang Kristen yang tdk setia beribadah

PERANAN GEMBALA KHUSUS

1. Mendata jemaat yang tidak setia beribadah
2. Mengunjungi jemaat yang tidak setia beribadah
3. Mengajak jemaat yang tidak setia beribadah agar mau beribadah
4. Mendoakan jemaat yang tidak setia beribadah
5. Mencek jemaat yg tdk rajin beribadah
6. Mengajak anggota majelis jemaat untuk mendoakan yg tdk setia beribadah
PERANAN GEMBALA KHUSUS PENUH WAKTU
1. Perkunjungan kepada jemaat yang tidak rajin beribadak
2. Berkhotbah penuh variasi
3. Berkhotbah secara eksegetis
4. Berkhorbah secara etika
5. Memberi senyum kepada anggota jemaat
6. Mengunjungi jemaat di luar Jadwal Gereja
7. Mengunjungi jemaat sesuai jadwal gereja
8. Berkordinasi dengan majelis siapa yang tidak rajin beribadah
9. Menganjurkan dalam khotbah mengajak yg tdk rajin ke ibadah
10. Kecakapan memimpin liturgy
11. Intonasi suara dalam khotbah membosankan
12. Khotbah terlalu terpaku kepada teks
13. Pendeta kurang senyum
14. Pendeta khotbah secara doctrinal
15. Pendeta khotbah menyindir pengkhotbah lain
16. Pendeta berkhotbah menghakimi gereja lain

Kesetiaan Beribadah Anggota Gereja

Saya tidak setia beribadah karena:

1. Pendeta tdk Perkunjungan kepada jemaat yang tidak rajin beribadak
2. Pendeta Berkhotbah penuh variasi
3. Pendeta berkhotbah secara eksegetis
4. Pendeta berkhotbah secara etika
5. Pendeta Memberi senyum kepada anggota jemaat
6. Pendeta Mengunjungi jemaat di luar Jadwal Gereja
7. Jadwal ibadah di setiap keluarga diserta makan dan minum
8. Pendeta Mengunjungi jemaat sesuai jadwal gereja
9. Pendeta Berkordinasi dengan majelis siapa yang tidak rajin beribadah
10. Menganjurkan dalam khotbah mengajak yg tdk rajin ke ibadah
11. Kecakapan memimpin liturgy
12. Intonasi suara dalam khotbah membosankan
13. Khotbah terlalu terpaku kepada teks
14. Pendeta kurang senyum
15. Pendeta khotbah secara doctrinal
16. Pendeta khotbah menyindir pengkhotbah lain
17. Pendeta berkhotbah menghakimi gereja lain
18. Saya setia beribadah karena pelayanan pendeta
19. Saya setia beribadah karena gereja memberi sembako
20. Saya setia beribadah karena khotbah pendeta

Senin, 25 Juli 2016

Peran Gembala Jemaat


Para gembala jemaat (pendeta) memiliki tugas-tugas pelayanan atau yang sering disebut dengan peranan gembala jemaat. Ada beragam peranan gembala jemaat dalam menggembalakan atau melayani anggota jemaat, khususnya peranan-peranan gembala jemaat yang berhubungan dengan kesetiaan beribadah. Artinya bila gembala jemaat melakukan beberapa peranannya sebagai gembala jemaat maka akan menolong anggota jemaat untuk setia beribadah di gereja. Berikut ini penjelasan tentang peranan-peranan gembala.

a. Pemberitaan Firman (Pelayanan Mimbar)

Seorang gembala jemaat memiliki peran utama sebagai pelayan firman Tuhan. Pelayanan firman Tuhan atau khotbah merupakan perioritas seorang gembala jemaat. Pemberitaan firman Tuhan menuntut sebuah tanggungjawab. Tidak ada seseorang yang mengemban tugas lebih berat dari orang yang beridiri di mimbar untuk menyampaikan maksud Allah kepada jemaat. Seorang gembala jemaat ketika di mimbar, ia berbicara atas nama Allah. Perioritas pemberitaan firman Tuhan menopang perioritas yang lain dari seorang gembala sidang yaitu menggembalakan kawanan domba (Warren W.Wiersbe dkk, 2002:11)
Bila pelayan adalah penafsir sabda tertulis maka jemaat yang datang beribadah pada hari Minggu mendapat perjumpaan dengan Tuhan yang berbicara kepadanya secara pribadi. Jemaat datang dalam ibadah untuk perjumpaan akbar yaitu secara bersama-sama dengan anggota tubuh Kristeu berjumpa dengan Allah. Menurut Thurneysen, pelayanan firman Allah adalah satu-satunya bentuk pelayanan pastoral yang benar-benar melayani Injil sebagai berita dari presensia dan aktifitas Allah yang menyelamatkan dalam Yesus Kristus. J.L.Ch. Abineno, 2012: 22)
Seorang gembala jemaat adalah orang yang tahu membedakan prioritas, maka berkhotbah menjadi tugas pelayanannya yang nomor satu. Dalam hal ini ia tidak melalaikan tugas penggembalaan, malahan meningkatkan tugas tersebut. Gembala yang baik harus memberitakan firman Tuhan bagi anggota jemaat.
Gembala sebagai pengkhotbah mempunyai hak istimewa dan tanggungjawab untuk mempelajari sabda Allah, merenungkannya, meresapinya, mengolahnya untuk orang lain, dan menyajikan kepada umat Allah. Setiap kali kita membuka Alkitab, suatu kebenaran lama akan berisi kekuatan baru, atau Roh Kudus menunjukkan suatu kebenaran baru yang memberi dorongan kepada gembala dalam persiapannya. Pengkhotbah bukanlah pembuat (produsen); ia adalah seorang penyalur. Sama seperti para nabi, ia dapat berkata, “Firman Allah datang kepadaku…” “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku mikmatinya; Firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku…” (Yer.15:16). (J.L.Ch. Abineno, 2012: 22)
Seorang gembala tidak boleh kehilangan sukacita dalam panggilannya, bila hal itu terjadi maka gembala kehilangan kuasa. Ia tidak lagi menjadi berkat bagi gerejanya. Hal ini tidak berarti bahwa para pendeta atau gembala tidak pernah mengalami masa-masa tawar hati, bahkan nabi-nabi besar sekalipun di dalam Alkitab dan sejarah gereja pernah mengalami kesuraman. Sebaliknya, ini berarti bahwa dalam masa pencobaan dan ujian ia masih merasa senang bahwa ia adalah milik dan penyambung sabda Allah. Hatinya meluap dengan kegembiraan setiap membuka Alkitab dan mempelajarinya sebagai persiapan untuk mengajar jemaat-nya. Sukacita dalam berkhotbah itu begitu besar sehingga mengatasi semua masalah dan beban. Sukacita ini menolong pendeta menanggung semua beban serta member kekuatan dalam menghadapi dan menyelesaikan semua persoalan.
Seorang gembala yang melayani Firman Allah mesti memahami bahwa ia dengan penuh kasih mempersiapkan firman dan menyampaikan firman secara bersungguh-sungguh. Kebenaran tanpa kasih adalah kasar dan dapat melukai hati orang, tetapi kasih tanpa kebenaran adalah kasih yang dangkal, tidak sepenuh hati dan sentimental. Tanggung jawab yang terakhir ialah kesediaan untuk didatangi jemaat sesudah mereka menerima khotbah. Khotbah yang baik dapat dibuktikan dari banyaknya orang yang datang kepada kita dan member komentar, khotbah itu berguna bagi jiwa saya. (Warren W.Wiersbe dkk, 2002:18-19)

b. Mengadakan Pelayanan Konseling

Seorang gembala jemaat adalah seorang yang berperan dalam memberi bimbingan. Kita kenal ada kata Konseling. Kata ini berasal dari bahasa Inggris, dari kata Counseling. Di dalam kamus artinya dikaitkan dengan kata counsel, yang memiliki beberapa arti yaitu : nasehat, anjuran dan pembicaraan. Berdasarkan arti kata ini, konseling secara etimologis berarti pemberian nasihat, anjuran, dan pembicaraan dengan bertukar pikiran. (Ngalimun, 2014: 6). Dalam konteks konseling Kristen, konseling diartikan pemberian nasehat, perembukan atau penyuluhan sehingga orang yang dikonseling mampu menghadapi masalahnya dan berusaha mengatasinya atau mencari solusi.(Rudi A. Alouw, 2014: 25) Menurut Rogers, memberikan “bantuan “ dalam konseling adalah dengan menyediakan kondisi, sarana, dan keterampilan yang membuat klien dapat membantu dirinya sendiri dalam memenuhi rasa aman, cinta, harga diri, membuat keputusan, dan aktualisasi diri. Memberikan bantuan juga mencakup kesediaan konselor untuk mendengarkan perjalanan hidup klien baik masa lalunya, harapan-harapannya, keinginan yang tidak terpenuhi, kegagalan yang dialami, trauma, dan konflik yang sedang dhadapi klien (Ngalimun, 2014: 6)
Konseling sedemikian penting bagi anggota jemaat. Demikian pentingnya konseling ini dapat dipahami dalam pandangan Saertsshertzer dan Stone (1974) yang dikutip dari tulisan Mappiare 2002 yang mengungkapkan bahwa kebutuhan akan adanya konseling pada dasarnya timbul dari dalam dan luar diri individu yang memunculkan pertanyaan mengenai “apa yang seharusnya dilakukan individu?”. (Ngalimun, 2014: 6). Sepakat dengan ahli yang lain, konseling tidak lain adalah mengembangkan setiap individu untuk mencapai batas optimal, yaitu dapat memecahkan masalah sendiri dan membuat keputusan yang sesuai dengan keadaan dirinya sendiri. Keputusan itu bukan hasil paksaan dari konselor/seorang guru yang memberi bimbingan tersebut. Akan tetapi keputusan tersebut berasal dari diri siswa yang dibimbing.(Sutrisna, 2013:145)
Seorang gembala yang memberi perhatian kepada jemaat dalam bentuk konseling adalah gembala yang peduli dan merawat domba-dambanya. Seorang gembala yang peduli kepada jemaat adalah seorang gembala atau pendeta yang tinggal dan melaksanakan kasih secara utuh. Kasih demikian merupakan dorongan kesaksian Alkitab.
Seorang gembala dapat memberi konseling kepada jemaat yang menghadapi masalah sehingga jemaat oleh pertolongan Roh Kudus dapat mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Jadi, pelayanan konseling yang dilakukan gembala jemaat merupakan pemberian bantuan kepada seseorang berupa nasisehat atau petunjuk agar ia dapat mengatasi persoalan yang dihadapinya.(Abineno, 2012:22)
c. Mengadakan Pelayanan Persekutuan

Seorang gembala jemaat memiliki peran yang relatif banyak. Salah satu dari pembahasan di atas yakni peran gembala jemaat dalam mengadakan pelayanan persekutuan. Anggota jemaat adalah yang hidup dalam persekutuan tubuh Yesus Kristus. Kalau ia melakukankesalahan (dosa), ia mengganggu atau merusak hubungan yang terdapat dalam persekutuan itu. Maksud pelayanan pastoral ialah: memperbaiki hubungan yang terganggu atau yang rusak itu, supaya anggota jemaat yang bersangkutan mendapat kembali tempatnya dalam persekutuan itu, sehingga ia dpat berfungsi lagi sebagai anggota tubuh Kristus.
Kita lihat, bahwa antara pelayanan pastoral dan persekutuan terdapat suatu hubungan yang sangat erat. Justru terhadap orang-orang ini Gereja harus mencurahkan perhatiannya yang khusus. Mereka bukan saja membutuhkan kunjungan dan percakapan, tetapi terutama bimbingan dan persekutuan. Gereja harus menjadi “rumah” di mana mereka setiap saat dapat berlindung dan dapat mengalami persaudaraan dan kekeluargaan yang sesungguhnya (J.L.Ch. Abineno, 2012:45).
Muller, dalam karyanya tentang penataan kembali ibadah jemaat mengatakan : “Gereja orang-orang Lewi dan imam-iman bukanlah Gereja (yang benar). Gereja yang benar ialah Gereja orang Samaria yang murah hati”. Gereja-gereja yang sama dengan orang-orang Lewi dan imam-imam di tengah jalan dari Yerusalem ke Yerikho, kalau mereka melalaikan tugas mereka dibidang koinonia: tidak melayani orang-orang yang menderita (= yang disiksa dan dirampok) yang membutuhkan bantuan mereka.

d. Menolong Jemaat dalam Kesembuhan Manusia seutuhnya

Seorang gembala jemaat perlu memberi perhatian dan pelayanan dalam hal menolong jemaat dalam kesembuhan manusia seutuhnya. Kegiatan ini merupakan peran seorang gembala jemaat. Persekutuan Kristen memberikan suasana untuk penyembuhan yang penuh kuasa. Apabila dua atau tiga orang berkumpul kuasa Roh Kudus dinyatakan,sebagaimana dijanjikan oleh Tuhan Yesus. (Bruce Larson dkk, 2004: 144). Oleh karena itu menyembuhkan manusia seutuhnya lebih dari menyembuhkan manusia saja. Manusia adalah manusia yang utuh. Yang dimaksudkan ialah: Manusia. Manusia bukan terdiri dri jiwa saja, tetapi dari kedua-duanya: dari tubuh dan jiwa. Hal ini jelas kit abaca dlam Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama, maupun dabiasanya dalam Perjanjian Baru. Pengertian tubuh, roh dan jiwa, biasanya digunakan secara bergantian dalam arti yang sama, yaitu manusia seutuhnya:manusia sebagai suatu totalitas. Kalau Alkitab katakan: “ Jiwaku memuji Tuhan, maka yang dimaksud ialah “Aku memuji Tuhan”. Demikian pula kalau ia katakana “Tuhan menyertai rohmu”, maka yang dimaksud ialah “Tuhan menyertai engkau”. Dan lain-lain. Alkitab tidak mengenal ikotomi (pembagian manusia atas dua bagian sebagai tubuh dan jiwa) atau trikotomi(pembagian manusia atas tiga bagian sebagai tubuh, roh dan jiwa). Baginya manusia ialah suatu kesatuan dari tubuh, roh dan jiwa (Abineno, 2012:48)

d. Membantu Anggota Jemaat Mengatasi Kesulitas Hidup

Peran yang lain yakni seorang gembala dapat membantu anggota jemaat untuk mengatasi kesulitan hidup. Dikatakan demikian karena seorang pelayan memiliki relasi dengan anggota jemaat yang telah diberkati Tuhan dan memiliki sumber-sumber pekerjaan. Misalnya ada anggota jemaat yang memiliki perusahan, seorang pendeta dapat memperkenalkan anggota jemaat yang sedang mengalami kesulitan hidup untuk dapat bekerja di perusahan tersebut. Cara lain yaitu memberdayakan kemampuan anggota jemaat melalui wirausaha atau entrepreneur.

e. Mendamaikan orang dalam pelayanan pastoral

Dalam pelayanan pastoral sering bertemu dengan anggota-anggota jemaat yang hidup terpisah atau terasing, baik dari anggota-anggota jemaat yang lain maupun dari persekutran mereka dengan Allah. Keterpisahan itu disebabkan oleh pertentangan-pertentangan yang terdapat diantara mereka, seperti pertentangan-pertentangan kepentingan, pertentangan-pertentangan golongan, pertentangan keluarga atau suku dan pertentangan lain. Oleh karena banyaknya pertentangan tersebut tidak cukup memdapat perhatian dari gereja maka diperluka pelayanan pastoral untuk menolong anggota jemaat hidup dalam pendmaian. Tentang fungsi mendamaikan ada yang tidak menganggapnya sebagai suatu fungsi yang tersendiri tetapi ada pula yang menganggapnya fungsi mendmaikan ialah berusaha memperbaiki relasi yang rusak antara manusia dan sesame manusia, dan antara manusia dan Allah.

Baca juga:
1. Pengertian Penggembalaan

Kamis, 28 Maret 2013

Pengertian Penggembalaan


 
Salah satu ontologi adalah penggembalaan. Penggembalaan memang merupakan sebuah kegiatan dari manusia. Manusia yang melakukan kegiatan penggembalaan itulah yang menjadi objek pembahasan penggembalaan.  Maka realitas penggembalaan dalam pembahasan ini bergantung pada realitas para penulis Alkitab, mulai dari penulis Kejadian sampai Wahyu. Karena realitas yang mereka sampaikan adalah realitas dalam dunia mereka. Artinya mereka yang menyaksikannya orang-orang tertentu melakukan tugas gembala. Misalnya Penulis I Samuel menyatakan bahwa Daud adalah gembala (I Samuel, 16:11), Penulis kitab Mazmur menyaksikan dalam bahasa kiasan bahwa TUHAN adalah gembala (Maz. 23), dalam Perjanjian Baru: Yesus menyebut diri-Nya gembala yang baik (Yoh. 10:11), Yesus meminta Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh. 21:15,16 dan 18).  
Epistemologi Penggembalaan Lintas Budaya
Pengertian Penggembalaan
Berdasarkan ontologi tentang gembala sebagaimana yang disinggung dalam ontologi penggembalaan atau realitas penggembalaan, maka perlu kita membangun sebuah epistemologi tentang penggembalaan. Salah satu langkah epistemologi itu adalah pengertian tentang penggembalaan.  Untuk membangun epistemologi khususnya pengertian tentang penggembalaan maka kita perlu memperhatikan definisi para ahli teologi  tentang penggembalaan.  Dari  sekian banyak definisi itu kita pilih dua definisi. Dua definisi ini menolong kita untuk mempercakapkan secara akademis mata kuliah Penggembalaan Lintas Budaya.
Dua definisi yang dimaksud:
1.    Definisi Thurneysen, penggembalaan adalah suatu penerapan khusus Injil (berita sukacita Yesus Kristus) kepada anggota jemaat [anggota jemaat lokal/universal=perjumpaan dengan orang Kristen di berbagai tempat baik yang seasas, misalnya Calvinisme, Luheranisme, Arminianisme, pentakostalisme, kharismatik] secara pribadi,  yaitu berita Injil yang dalam khotbah gereja disampaikan kepada semua orang (Strom, 2004 : 1).
Yang ditandai merupakan tambahan saya untuk memudahkan pemahaman akan anggota jemaat dalam konteks penggembalaan yang tidak hanya merupakan tugas gembala tetapi semua orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.
2.    J.W.Herfst, penggembalaan adalah upaya terstruktur menolong setiap orang untuk menyadari hubungannya dengan Allah, dan mengajar  orang untuk mengakui ketaatannya kepada Allah dan sesamanya, dalam situasinya sendiri (Strom, 2004 : 1)


Penggembalaan dalam Jemaat

Yesus mengibaratkan atau menyamakan pelayanan kepada saudara-saudara kita dalam diri-Nya itu, dengan penggebalaan. Jadi, saudara-saudara itu hendaknya dijaga,dipelihara, dibimbing, dan diselamatkan dari bahaya.
Kata gembala dalam bahasa Latin Pastor, bahasa Yunani “Poimen”. Oleh sebab itu penggembalaan dapat juga disebut “poimenika” atau “pastoralia”. Dengan demikian, pelayanan pastoral adalah sebutan untuk penggembalaan.

Kesimpulan

Penggembalaan adalah:
(1)  Mencari dan mengunjungi anggota jemaat satu persatu
(2)  Mengabarkan firman Allah kepada jemaat di tengah situasi hidup mereka pribadi
(3)  Melayani jemaat, sama seperti Yesus melayani mereka
(4)  Supaya mereka lebih menyadari iman mereka, dan dapat mewujudkan iman itu dalam hidupnya sehari-hari.   

Pengertian Penggembalaan


 
Salah satu ontologi adalah penggembalaan. Penggembalaan memang merupakan sebuah kegiatan dari manusia. Manusia yang melakukan kegiatan penggembalaan itulah yang menjadi objek pembahasan penggembalaan.  Maka realitas penggembalaan dalam pembahasan ini bergantung pada realitas para penulis Alkitab, mulai dari penulis Kejadian sampai Wahyu. Karena realitas yang mereka sampaikan adalah realitas dalam dunia mereka. Artinya mereka yang menyaksikannya orang-orang tertentu melakukan tugas gembala. Misalnya Penulis I Samuel menyatakan bahwa Daud adalah gembala (I Samuel, 16:11), Penulis kitab Mazmur menyaksikan dalam bahasa kiasan bahwa TUHAN adalah gembala (Maz. 23), dalam Perjanjian Baru: Yesus menyebut diri-Nya gembala yang baik (Yoh. 10:11), Yesus meminta Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh. 21:15,16 dan 18).  
Epistemologi Penggembalaan Lintas Budaya
Pengertian Penggembalaan
Berdasarkan ontologi tentang gembala sebagaimana yang disinggung dalam ontologi penggembalaan atau realitas penggembalaan, maka perlu kita membangun sebuah epistemologi tentang penggembalaan. Salah satu langkah epistemologi itu adalah pengertian tentang penggembalaan.  Untuk membangun epistemologi khususnya pengertian tentang penggembalaan maka kita perlu memperhatikan definisi para ahli teologi  tentang penggembalaan.  Dari  sekian banyak definisi itu kita pilih dua definisi. Dua definisi ini menolong kita untuk mempercakapkan secara akademis mata kuliah Penggembalaan Lintas Budaya.
Dua definisi yang dimaksud:
1.    Definisi Thurneysen, penggembalaan adalah suatu penerapan khusus Injil (berita sukacita Yesus Kristus) kepada anggota jemaat [anggota jemaat lokal/universal=perjumpaan dengan orang Kristen di berbagai tempat baik yang seasas, misalnya Calvinisme, Luheranisme, Arminianisme, pentakostalisme, kharismatik] secara pribadi,  yaitu berita Injil yang dalam khotbah gereja disampaikan kepada semua orang (Strom, 2004 : 1).
Yang ditandai merupakan tambahan saya untuk memudahkan pemahaman akan anggota jemaat dalam konteks penggembalaan yang tidak hanya merupakan tugas gembala tetapi semua orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.
2.    J.W.Herfst, penggembalaan adalah upaya terstruktur menolong setiap orang untuk menyadari hubungannya dengan Allah, dan mengajar  orang untuk mengakui ketaatannya kepada Allah dan sesamanya, dalam situasinya sendiri (Strom, 2004 : 1)

Pengertian Penggembalaan


 
Salah satu ontologi adalah penggembalaan. Penggembalaan memang merupakan sebuah kegiatan dari manusia. Manusia yang melakukan kegiatan penggembalaan itulah yang menjadi objek pembahasan penggembalaan.  Maka realitas penggembalaan dalam pembahasan ini bergantung pada realitas para penulis Alkitab, mulai dari penulis Kejadian sampai Wahyu. Karena realitas yang mereka sampaikan adalah realitas dalam dunia mereka. Artinya mereka yang menyaksikannya orang-orang tertentu melakukan tugas gembala. Misalnya Penulis I Samuel menyatakan bahwa Daud adalah gembala (I Samuel, 16:11), Penulis kitab Mazmur menyaksikan dalam bahasa kiasan bahwa TUHAN adalah gembala (Maz. 23), dalam Perjanjian Baru: Yesus menyebut diri-Nya gembala yang baik (Yoh. 10:11), Yesus meminta Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh. 21:15,16 dan 18).  
Epistemologi Penggembalaan Lintas Budaya
Pengertian Penggembalaan
Berdasarkan ontologi tentang gembala sebagaimana yang disinggung dalam ontologi penggembalaan atau realitas penggembalaan, maka perlu kita membangun sebuah epistemologi tentang penggembalaan. Salah satu langkah epistemologi itu adalah pengertian tentang penggembalaan.  Untuk membangun epistemologi khususnya pengertian tentang penggembalaan maka kita perlu memperhatikan definisi para ahli teologi  tentang penggembalaan.  Dari  sekian banyak definisi itu kita pilih dua definisi. Dua definisi ini menolong kita untuk mempercakapkan secara akademis mata kuliah Penggembalaan Lintas Budaya.
Dua definisi yang dimaksud:
1.    Definisi Thurneysen, penggembalaan adalah suatu penerapan khusus Injil (berita sukacita Yesus Kristus) kepada anggota jemaat [anggota jemaat lokal/universal=perjumpaan dengan orang Kristen di berbagai tempat baik yang seasas, misalnya Calvinisme, Luheranisme, Arminianisme, pentakostalisme, kharismatik] secara pribadi,  yaitu berita Injil yang dalam khotbah gereja disampaikan kepada semua orang (Strom, 2004 : 1).
Yang ditandai merupakan tambahan saya untuk memudahkan pemahaman akan anggota jemaat dalam konteks penggembalaan yang tidak hanya merupakan tugas gembala tetapi semua orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.
2.    J.W.Herfst, penggembalaan adalah upaya terstruktur menolong setiap orang untuk menyadari hubungannya dengan Allah, dan mengajar  orang untuk mengakui ketaatannya kepada Allah dan sesamanya, dalam situasinya sendiri (Strom, 2004 : 1)