Senin, 25 Juli 2016

Peran Gembala Jemaat


Para gembala jemaat (pendeta) memiliki tugas-tugas pelayanan atau yang sering disebut dengan peranan gembala jemaat. Ada beragam peranan gembala jemaat dalam menggembalakan atau melayani anggota jemaat, khususnya peranan-peranan gembala jemaat yang berhubungan dengan kesetiaan beribadah. Artinya bila gembala jemaat melakukan beberapa peranannya sebagai gembala jemaat maka akan menolong anggota jemaat untuk setia beribadah di gereja. Berikut ini penjelasan tentang peranan-peranan gembala.

a. Pemberitaan Firman (Pelayanan Mimbar)

Seorang gembala jemaat memiliki peran utama sebagai pelayan firman Tuhan. Pelayanan firman Tuhan atau khotbah merupakan perioritas seorang gembala jemaat. Pemberitaan firman Tuhan menuntut sebuah tanggungjawab. Tidak ada seseorang yang mengemban tugas lebih berat dari orang yang beridiri di mimbar untuk menyampaikan maksud Allah kepada jemaat. Seorang gembala jemaat ketika di mimbar, ia berbicara atas nama Allah. Perioritas pemberitaan firman Tuhan menopang perioritas yang lain dari seorang gembala sidang yaitu menggembalakan kawanan domba (Warren W.Wiersbe dkk, 2002:11)
Bila pelayan adalah penafsir sabda tertulis maka jemaat yang datang beribadah pada hari Minggu mendapat perjumpaan dengan Tuhan yang berbicara kepadanya secara pribadi. Jemaat datang dalam ibadah untuk perjumpaan akbar yaitu secara bersama-sama dengan anggota tubuh Kristeu berjumpa dengan Allah. Menurut Thurneysen, pelayanan firman Allah adalah satu-satunya bentuk pelayanan pastoral yang benar-benar melayani Injil sebagai berita dari presensia dan aktifitas Allah yang menyelamatkan dalam Yesus Kristus. J.L.Ch. Abineno, 2012: 22)
Seorang gembala jemaat adalah orang yang tahu membedakan prioritas, maka berkhotbah menjadi tugas pelayanannya yang nomor satu. Dalam hal ini ia tidak melalaikan tugas penggembalaan, malahan meningkatkan tugas tersebut. Gembala yang baik harus memberitakan firman Tuhan bagi anggota jemaat.
Gembala sebagai pengkhotbah mempunyai hak istimewa dan tanggungjawab untuk mempelajari sabda Allah, merenungkannya, meresapinya, mengolahnya untuk orang lain, dan menyajikan kepada umat Allah. Setiap kali kita membuka Alkitab, suatu kebenaran lama akan berisi kekuatan baru, atau Roh Kudus menunjukkan suatu kebenaran baru yang memberi dorongan kepada gembala dalam persiapannya. Pengkhotbah bukanlah pembuat (produsen); ia adalah seorang penyalur. Sama seperti para nabi, ia dapat berkata, “Firman Allah datang kepadaku…” “Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku mikmatinya; Firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku, dan menjadi kesukaan hatiku…” (Yer.15:16). (J.L.Ch. Abineno, 2012: 22)
Seorang gembala tidak boleh kehilangan sukacita dalam panggilannya, bila hal itu terjadi maka gembala kehilangan kuasa. Ia tidak lagi menjadi berkat bagi gerejanya. Hal ini tidak berarti bahwa para pendeta atau gembala tidak pernah mengalami masa-masa tawar hati, bahkan nabi-nabi besar sekalipun di dalam Alkitab dan sejarah gereja pernah mengalami kesuraman. Sebaliknya, ini berarti bahwa dalam masa pencobaan dan ujian ia masih merasa senang bahwa ia adalah milik dan penyambung sabda Allah. Hatinya meluap dengan kegembiraan setiap membuka Alkitab dan mempelajarinya sebagai persiapan untuk mengajar jemaat-nya. Sukacita dalam berkhotbah itu begitu besar sehingga mengatasi semua masalah dan beban. Sukacita ini menolong pendeta menanggung semua beban serta member kekuatan dalam menghadapi dan menyelesaikan semua persoalan.
Seorang gembala yang melayani Firman Allah mesti memahami bahwa ia dengan penuh kasih mempersiapkan firman dan menyampaikan firman secara bersungguh-sungguh. Kebenaran tanpa kasih adalah kasar dan dapat melukai hati orang, tetapi kasih tanpa kebenaran adalah kasih yang dangkal, tidak sepenuh hati dan sentimental. Tanggung jawab yang terakhir ialah kesediaan untuk didatangi jemaat sesudah mereka menerima khotbah. Khotbah yang baik dapat dibuktikan dari banyaknya orang yang datang kepada kita dan member komentar, khotbah itu berguna bagi jiwa saya. (Warren W.Wiersbe dkk, 2002:18-19)

b. Mengadakan Pelayanan Konseling

Seorang gembala jemaat adalah seorang yang berperan dalam memberi bimbingan. Kita kenal ada kata Konseling. Kata ini berasal dari bahasa Inggris, dari kata Counseling. Di dalam kamus artinya dikaitkan dengan kata counsel, yang memiliki beberapa arti yaitu : nasehat, anjuran dan pembicaraan. Berdasarkan arti kata ini, konseling secara etimologis berarti pemberian nasihat, anjuran, dan pembicaraan dengan bertukar pikiran. (Ngalimun, 2014: 6). Dalam konteks konseling Kristen, konseling diartikan pemberian nasehat, perembukan atau penyuluhan sehingga orang yang dikonseling mampu menghadapi masalahnya dan berusaha mengatasinya atau mencari solusi.(Rudi A. Alouw, 2014: 25) Menurut Rogers, memberikan “bantuan “ dalam konseling adalah dengan menyediakan kondisi, sarana, dan keterampilan yang membuat klien dapat membantu dirinya sendiri dalam memenuhi rasa aman, cinta, harga diri, membuat keputusan, dan aktualisasi diri. Memberikan bantuan juga mencakup kesediaan konselor untuk mendengarkan perjalanan hidup klien baik masa lalunya, harapan-harapannya, keinginan yang tidak terpenuhi, kegagalan yang dialami, trauma, dan konflik yang sedang dhadapi klien (Ngalimun, 2014: 6)
Konseling sedemikian penting bagi anggota jemaat. Demikian pentingnya konseling ini dapat dipahami dalam pandangan Saertsshertzer dan Stone (1974) yang dikutip dari tulisan Mappiare 2002 yang mengungkapkan bahwa kebutuhan akan adanya konseling pada dasarnya timbul dari dalam dan luar diri individu yang memunculkan pertanyaan mengenai “apa yang seharusnya dilakukan individu?”. (Ngalimun, 2014: 6). Sepakat dengan ahli yang lain, konseling tidak lain adalah mengembangkan setiap individu untuk mencapai batas optimal, yaitu dapat memecahkan masalah sendiri dan membuat keputusan yang sesuai dengan keadaan dirinya sendiri. Keputusan itu bukan hasil paksaan dari konselor/seorang guru yang memberi bimbingan tersebut. Akan tetapi keputusan tersebut berasal dari diri siswa yang dibimbing.(Sutrisna, 2013:145)
Seorang gembala yang memberi perhatian kepada jemaat dalam bentuk konseling adalah gembala yang peduli dan merawat domba-dambanya. Seorang gembala yang peduli kepada jemaat adalah seorang gembala atau pendeta yang tinggal dan melaksanakan kasih secara utuh. Kasih demikian merupakan dorongan kesaksian Alkitab.
Seorang gembala dapat memberi konseling kepada jemaat yang menghadapi masalah sehingga jemaat oleh pertolongan Roh Kudus dapat mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Jadi, pelayanan konseling yang dilakukan gembala jemaat merupakan pemberian bantuan kepada seseorang berupa nasisehat atau petunjuk agar ia dapat mengatasi persoalan yang dihadapinya.(Abineno, 2012:22)
c. Mengadakan Pelayanan Persekutuan

Seorang gembala jemaat memiliki peran yang relatif banyak. Salah satu dari pembahasan di atas yakni peran gembala jemaat dalam mengadakan pelayanan persekutuan. Anggota jemaat adalah yang hidup dalam persekutuan tubuh Yesus Kristus. Kalau ia melakukankesalahan (dosa), ia mengganggu atau merusak hubungan yang terdapat dalam persekutuan itu. Maksud pelayanan pastoral ialah: memperbaiki hubungan yang terganggu atau yang rusak itu, supaya anggota jemaat yang bersangkutan mendapat kembali tempatnya dalam persekutuan itu, sehingga ia dpat berfungsi lagi sebagai anggota tubuh Kristus.
Kita lihat, bahwa antara pelayanan pastoral dan persekutuan terdapat suatu hubungan yang sangat erat. Justru terhadap orang-orang ini Gereja harus mencurahkan perhatiannya yang khusus. Mereka bukan saja membutuhkan kunjungan dan percakapan, tetapi terutama bimbingan dan persekutuan. Gereja harus menjadi “rumah” di mana mereka setiap saat dapat berlindung dan dapat mengalami persaudaraan dan kekeluargaan yang sesungguhnya (J.L.Ch. Abineno, 2012:45).
Muller, dalam karyanya tentang penataan kembali ibadah jemaat mengatakan : “Gereja orang-orang Lewi dan imam-iman bukanlah Gereja (yang benar). Gereja yang benar ialah Gereja orang Samaria yang murah hati”. Gereja-gereja yang sama dengan orang-orang Lewi dan imam-imam di tengah jalan dari Yerusalem ke Yerikho, kalau mereka melalaikan tugas mereka dibidang koinonia: tidak melayani orang-orang yang menderita (= yang disiksa dan dirampok) yang membutuhkan bantuan mereka.

d. Menolong Jemaat dalam Kesembuhan Manusia seutuhnya

Seorang gembala jemaat perlu memberi perhatian dan pelayanan dalam hal menolong jemaat dalam kesembuhan manusia seutuhnya. Kegiatan ini merupakan peran seorang gembala jemaat. Persekutuan Kristen memberikan suasana untuk penyembuhan yang penuh kuasa. Apabila dua atau tiga orang berkumpul kuasa Roh Kudus dinyatakan,sebagaimana dijanjikan oleh Tuhan Yesus. (Bruce Larson dkk, 2004: 144). Oleh karena itu menyembuhkan manusia seutuhnya lebih dari menyembuhkan manusia saja. Manusia adalah manusia yang utuh. Yang dimaksudkan ialah: Manusia. Manusia bukan terdiri dri jiwa saja, tetapi dari kedua-duanya: dari tubuh dan jiwa. Hal ini jelas kit abaca dlam Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama, maupun dabiasanya dalam Perjanjian Baru. Pengertian tubuh, roh dan jiwa, biasanya digunakan secara bergantian dalam arti yang sama, yaitu manusia seutuhnya:manusia sebagai suatu totalitas. Kalau Alkitab katakan: “ Jiwaku memuji Tuhan, maka yang dimaksud ialah “Aku memuji Tuhan”. Demikian pula kalau ia katakana “Tuhan menyertai rohmu”, maka yang dimaksud ialah “Tuhan menyertai engkau”. Dan lain-lain. Alkitab tidak mengenal ikotomi (pembagian manusia atas dua bagian sebagai tubuh dan jiwa) atau trikotomi(pembagian manusia atas tiga bagian sebagai tubuh, roh dan jiwa). Baginya manusia ialah suatu kesatuan dari tubuh, roh dan jiwa (Abineno, 2012:48)

d. Membantu Anggota Jemaat Mengatasi Kesulitas Hidup

Peran yang lain yakni seorang gembala dapat membantu anggota jemaat untuk mengatasi kesulitan hidup. Dikatakan demikian karena seorang pelayan memiliki relasi dengan anggota jemaat yang telah diberkati Tuhan dan memiliki sumber-sumber pekerjaan. Misalnya ada anggota jemaat yang memiliki perusahan, seorang pendeta dapat memperkenalkan anggota jemaat yang sedang mengalami kesulitan hidup untuk dapat bekerja di perusahan tersebut. Cara lain yaitu memberdayakan kemampuan anggota jemaat melalui wirausaha atau entrepreneur.

e. Mendamaikan orang dalam pelayanan pastoral

Dalam pelayanan pastoral sering bertemu dengan anggota-anggota jemaat yang hidup terpisah atau terasing, baik dari anggota-anggota jemaat yang lain maupun dari persekutran mereka dengan Allah. Keterpisahan itu disebabkan oleh pertentangan-pertentangan yang terdapat diantara mereka, seperti pertentangan-pertentangan kepentingan, pertentangan-pertentangan golongan, pertentangan keluarga atau suku dan pertentangan lain. Oleh karena banyaknya pertentangan tersebut tidak cukup memdapat perhatian dari gereja maka diperluka pelayanan pastoral untuk menolong anggota jemaat hidup dalam pendmaian. Tentang fungsi mendamaikan ada yang tidak menganggapnya sebagai suatu fungsi yang tersendiri tetapi ada pula yang menganggapnya fungsi mendmaikan ialah berusaha memperbaiki relasi yang rusak antara manusia dan sesame manusia, dan antara manusia dan Allah.

Baca juga:
1. Pengertian Penggembalaan

Kamis, 28 Maret 2013

Pengertian Penggembalaan


 
Salah satu ontologi adalah penggembalaan. Penggembalaan memang merupakan sebuah kegiatan dari manusia. Manusia yang melakukan kegiatan penggembalaan itulah yang menjadi objek pembahasan penggembalaan.  Maka realitas penggembalaan dalam pembahasan ini bergantung pada realitas para penulis Alkitab, mulai dari penulis Kejadian sampai Wahyu. Karena realitas yang mereka sampaikan adalah realitas dalam dunia mereka. Artinya mereka yang menyaksikannya orang-orang tertentu melakukan tugas gembala. Misalnya Penulis I Samuel menyatakan bahwa Daud adalah gembala (I Samuel, 16:11), Penulis kitab Mazmur menyaksikan dalam bahasa kiasan bahwa TUHAN adalah gembala (Maz. 23), dalam Perjanjian Baru: Yesus menyebut diri-Nya gembala yang baik (Yoh. 10:11), Yesus meminta Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh. 21:15,16 dan 18).  
Epistemologi Penggembalaan Lintas Budaya
Pengertian Penggembalaan
Berdasarkan ontologi tentang gembala sebagaimana yang disinggung dalam ontologi penggembalaan atau realitas penggembalaan, maka perlu kita membangun sebuah epistemologi tentang penggembalaan. Salah satu langkah epistemologi itu adalah pengertian tentang penggembalaan.  Untuk membangun epistemologi khususnya pengertian tentang penggembalaan maka kita perlu memperhatikan definisi para ahli teologi  tentang penggembalaan.  Dari  sekian banyak definisi itu kita pilih dua definisi. Dua definisi ini menolong kita untuk mempercakapkan secara akademis mata kuliah Penggembalaan Lintas Budaya.
Dua definisi yang dimaksud:
1.    Definisi Thurneysen, penggembalaan adalah suatu penerapan khusus Injil (berita sukacita Yesus Kristus) kepada anggota jemaat [anggota jemaat lokal/universal=perjumpaan dengan orang Kristen di berbagai tempat baik yang seasas, misalnya Calvinisme, Luheranisme, Arminianisme, pentakostalisme, kharismatik] secara pribadi,  yaitu berita Injil yang dalam khotbah gereja disampaikan kepada semua orang (Strom, 2004 : 1).
Yang ditandai merupakan tambahan saya untuk memudahkan pemahaman akan anggota jemaat dalam konteks penggembalaan yang tidak hanya merupakan tugas gembala tetapi semua orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.
2.    J.W.Herfst, penggembalaan adalah upaya terstruktur menolong setiap orang untuk menyadari hubungannya dengan Allah, dan mengajar  orang untuk mengakui ketaatannya kepada Allah dan sesamanya, dalam situasinya sendiri (Strom, 2004 : 1)


Penggembalaan dalam Jemaat

Yesus mengibaratkan atau menyamakan pelayanan kepada saudara-saudara kita dalam diri-Nya itu, dengan penggebalaan. Jadi, saudara-saudara itu hendaknya dijaga,dipelihara, dibimbing, dan diselamatkan dari bahaya.
Kata gembala dalam bahasa Latin Pastor, bahasa Yunani “Poimen”. Oleh sebab itu penggembalaan dapat juga disebut “poimenika” atau “pastoralia”. Dengan demikian, pelayanan pastoral adalah sebutan untuk penggembalaan.

Kesimpulan

Penggembalaan adalah:
(1)  Mencari dan mengunjungi anggota jemaat satu persatu
(2)  Mengabarkan firman Allah kepada jemaat di tengah situasi hidup mereka pribadi
(3)  Melayani jemaat, sama seperti Yesus melayani mereka
(4)  Supaya mereka lebih menyadari iman mereka, dan dapat mewujudkan iman itu dalam hidupnya sehari-hari.   

Pengertian Penggembalaan


 
Salah satu ontologi adalah penggembalaan. Penggembalaan memang merupakan sebuah kegiatan dari manusia. Manusia yang melakukan kegiatan penggembalaan itulah yang menjadi objek pembahasan penggembalaan.  Maka realitas penggembalaan dalam pembahasan ini bergantung pada realitas para penulis Alkitab, mulai dari penulis Kejadian sampai Wahyu. Karena realitas yang mereka sampaikan adalah realitas dalam dunia mereka. Artinya mereka yang menyaksikannya orang-orang tertentu melakukan tugas gembala. Misalnya Penulis I Samuel menyatakan bahwa Daud adalah gembala (I Samuel, 16:11), Penulis kitab Mazmur menyaksikan dalam bahasa kiasan bahwa TUHAN adalah gembala (Maz. 23), dalam Perjanjian Baru: Yesus menyebut diri-Nya gembala yang baik (Yoh. 10:11), Yesus meminta Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh. 21:15,16 dan 18).  
Epistemologi Penggembalaan Lintas Budaya
Pengertian Penggembalaan
Berdasarkan ontologi tentang gembala sebagaimana yang disinggung dalam ontologi penggembalaan atau realitas penggembalaan, maka perlu kita membangun sebuah epistemologi tentang penggembalaan. Salah satu langkah epistemologi itu adalah pengertian tentang penggembalaan.  Untuk membangun epistemologi khususnya pengertian tentang penggembalaan maka kita perlu memperhatikan definisi para ahli teologi  tentang penggembalaan.  Dari  sekian banyak definisi itu kita pilih dua definisi. Dua definisi ini menolong kita untuk mempercakapkan secara akademis mata kuliah Penggembalaan Lintas Budaya.
Dua definisi yang dimaksud:
1.    Definisi Thurneysen, penggembalaan adalah suatu penerapan khusus Injil (berita sukacita Yesus Kristus) kepada anggota jemaat [anggota jemaat lokal/universal=perjumpaan dengan orang Kristen di berbagai tempat baik yang seasas, misalnya Calvinisme, Luheranisme, Arminianisme, pentakostalisme, kharismatik] secara pribadi,  yaitu berita Injil yang dalam khotbah gereja disampaikan kepada semua orang (Strom, 2004 : 1).
Yang ditandai merupakan tambahan saya untuk memudahkan pemahaman akan anggota jemaat dalam konteks penggembalaan yang tidak hanya merupakan tugas gembala tetapi semua orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.
2.    J.W.Herfst, penggembalaan adalah upaya terstruktur menolong setiap orang untuk menyadari hubungannya dengan Allah, dan mengajar  orang untuk mengakui ketaatannya kepada Allah dan sesamanya, dalam situasinya sendiri (Strom, 2004 : 1)

Pengertian Penggembalaan


 
Salah satu ontologi adalah penggembalaan. Penggembalaan memang merupakan sebuah kegiatan dari manusia. Manusia yang melakukan kegiatan penggembalaan itulah yang menjadi objek pembahasan penggembalaan.  Maka realitas penggembalaan dalam pembahasan ini bergantung pada realitas para penulis Alkitab, mulai dari penulis Kejadian sampai Wahyu. Karena realitas yang mereka sampaikan adalah realitas dalam dunia mereka. Artinya mereka yang menyaksikannya orang-orang tertentu melakukan tugas gembala. Misalnya Penulis I Samuel menyatakan bahwa Daud adalah gembala (I Samuel, 16:11), Penulis kitab Mazmur menyaksikan dalam bahasa kiasan bahwa TUHAN adalah gembala (Maz. 23), dalam Perjanjian Baru: Yesus menyebut diri-Nya gembala yang baik (Yoh. 10:11), Yesus meminta Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yoh. 21:15,16 dan 18).  
Epistemologi Penggembalaan Lintas Budaya
Pengertian Penggembalaan
Berdasarkan ontologi tentang gembala sebagaimana yang disinggung dalam ontologi penggembalaan atau realitas penggembalaan, maka perlu kita membangun sebuah epistemologi tentang penggembalaan. Salah satu langkah epistemologi itu adalah pengertian tentang penggembalaan.  Untuk membangun epistemologi khususnya pengertian tentang penggembalaan maka kita perlu memperhatikan definisi para ahli teologi  tentang penggembalaan.  Dari  sekian banyak definisi itu kita pilih dua definisi. Dua definisi ini menolong kita untuk mempercakapkan secara akademis mata kuliah Penggembalaan Lintas Budaya.
Dua definisi yang dimaksud:
1.    Definisi Thurneysen, penggembalaan adalah suatu penerapan khusus Injil (berita sukacita Yesus Kristus) kepada anggota jemaat [anggota jemaat lokal/universal=perjumpaan dengan orang Kristen di berbagai tempat baik yang seasas, misalnya Calvinisme, Luheranisme, Arminianisme, pentakostalisme, kharismatik] secara pribadi,  yaitu berita Injil yang dalam khotbah gereja disampaikan kepada semua orang (Strom, 2004 : 1).
Yang ditandai merupakan tambahan saya untuk memudahkan pemahaman akan anggota jemaat dalam konteks penggembalaan yang tidak hanya merupakan tugas gembala tetapi semua orang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.
2.    J.W.Herfst, penggembalaan adalah upaya terstruktur menolong setiap orang untuk menyadari hubungannya dengan Allah, dan mengajar  orang untuk mengakui ketaatannya kepada Allah dan sesamanya, dalam situasinya sendiri (Strom, 2004 : 1)